3 FAKTA BAHWA IMUNISASI LEBIH BERMANFAAT DARIPADA PERBAIKAN SANITASI

Spread the love

Manakah yang lebih bermanfaat dalam pencegahan penyakit di masa depan. Penggunaan Imunisasi atau perbaikan higiena sanitasi. Ternyata meski telah dilakukan perbaikan sanitasi tetapi saat dilakukan penghentian imunisasi akan meningkatkan kembali angka kejadian penyakit. Dengan demikian imunisasi amat penting dan berguna untuk mencegah penyakit.

3 FAKTA BAHWA IMUNISASI LEBIH BERMANFAAT

  1. Pengamatan difteria di Eropa setelah perang dunia ke II menunjukkan penurunan angka kejadian penyakit, sejalan dengan perbaikan sanitasi dan higiene. Namun penurunan penyakit difteria yang permanen baru tampak setelah program imunisasi dijalankan secara luas. Kondisi sosial ekonomi yang membaik mempunyai dampak positif bagi penyakit. Nutrisi yang cukup, penemuan antibiotik, telah meningkatkan angka harapan hidup bagi pasien. Kepadatan penduduk yang berkurang, telah menurunkan penularan penyakit. Angka kelahiran yang menurun juga telah menurunkan jumlah anak yang rentan dan menurunkan penularan dalam dan antar keluarga. Pengamatan angka kejadian penyakit jangka panjang dapat menerangkan dampak imunisasi dalam menurunkan penyakit.
  2. Pengalaman negara maju, seperti Inggris, Swedia dan Jepang, menunjukkan bahwa penghentian program imunisasi pertusis (batuk rejan, batuk 100 hari) karena kekhawatiran terhadap efek samping vaksin, menimbulkan dampak peningkatan penyakit pertusis. Di Inggris, penurunan imunisasi pertusis pada tahun 1974 diikuti oleh epidemi pertusis dengan lebih dari 100.000 kasus dan 36 meninggal pada tahun 1978. Di Jepang pada kurun waktu yang hampir sama, terjadi penurunan cakupan imunisasi pertusis dari 70% menjadi 20%-40%. Hal itu diikuti dengan peningkatan kasus pertusis dari 393 dan tanpa kematian pada tahun 1974 menjadi 13.000 kasus pertusis dan 41 meninggal pada tahun 1979. Di Swedia, angka kejadian pertusis per 100.000 anak umur 0-6 tahun meningkat dari 700 kasus pada tahun 1981 menjadi 3.200 pada tahun 1985.
  3. Pengamatan data di propinsi Ontario, Kanada yang mempunyai data morbiditas, mortalitas dan case fatality rate untuk kurun waktu 1880-1940. Sebelum ditemukan antitoksin difteria, mortalitas difteria melampaui 50 per 100.000 populasi pada masa tersebut. Mortalitas menurun menjadi sekitar 15 per 100.000 pada Perang Dunia I, meski pun angka morbiditas tidak menurun. Setelah penggunaan toksoid difteri secara luas pada akhir tahun 1920, penyakit difteria menurun drastis.
BACA  Vaksin Ebola Berhasil Ditemukan ?

Copyright © 2015, MEDIA IMUNISASI Information Education Network. All rights reserved

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *