Alergi Makanan , Mudah Mual Muntah dan GER Pada Anak

Spread the love

Alergi makanan , muntah dan GER

  • Refluks gastroesofageal (GER) dan alergi susu sapi (CMA) sering terjadi pada bayi di bawah 1 tahun. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan antara 2 entitas ini telah diteliti dan beberapa kesimpulan penting telah dicapai: hingga setengah dari kasus APK pada bayi di bawah 1 tahun, mungkin ada hubungan dengan CMA. Dalam proporsi kasus yang tinggi, APK tidak hanya terkait dengan CMA tetapi juga diinduksi CMA. Frekuensi hubungan ini harus mendorong dokter anak untuk melakukan skrining untuk kemungkinan CMA bersamaan pada semua bayi yang memiliki APK dan berusia kurang dari 1 tahun. Dengan pengecualian pada beberapa pasien dengan manifestasi CMA khas ringan (diare, dermatitis, atau rinitis), gejala GER yang terkait dengan CMA adalah sama dengan gejala yang diamati pada GER primer. Tes imunologi dan pemantauan pH esofagus (dengan pola pH khas yang ditandai dengan penurunan pH esofagus yang progresif dan lambat antara pemberian makan) dapat membantu jika diduga ada hubungan antara GER dan CMA, meskipun respons klinis terhadap diet eliminasi dan tantangan adalah hanya petunjuk untuk diagnosis.
  • Refluks gastroesofageal (GER) pada bayi bisa menjadi penyebab sekunder dari alergi makanan. Beberapa peneliti mengamati  frekuensi GER dikaitkan dengan alergi protein susu sapi (CMPA) pada bayi <1 tahun dan mencoba menunjukkan laboratorium dan pemeriksaan instrumental yang berguna dalam mendiagnosis GER + CMPA. Setelah pengukuran pH esofagus 24 jam, endoskopi esofagus, dan diet eliminasi, diikuti dengan double-blind challenge, pasien dibagi menjadi empat kelompok: APK primer, APK sekunder CMPA, CMPA tanpa GER, dan kelompok kontrol dengan subjek menderita baik GER maupun CMPA. Tes imunologi yang paling berguna untuk diagnosis GER + CMPA adalah uji IgG anti-beta-laktoglobulin Terdapat bukti pelacakan karakteristik  dan nilai IgG anti-beta-laktoglobulin yang tinggi adalah tes yang spesifik dan sensitif untuk diagnosis GER + CMPA.
  • Secara mekanik integritas mukosa usus dan peristaltik merupakan pelindung masuknya alergi ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan rusaknya bahan penyebab alergi (denaturasi allergen). Secara imunologik sIgA pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal allergen (penyebab alergi) masuk ke dalam tubuh. Pada usia anak saluran cerna masih imatur (belum matang). Sehingga sistim pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan alergen masuk ke dalam tubuh. Gangguan saluran cerna yang berkaitan dengan alergi makanan tersebut sering diistilahkan sebagai gastroenteropati atopi.
  • Saluran cerna adalah target awal dan utama pada proses terjadinya alergi makanan. Karena penyebab utama adalah imaturitas (keitidak matangan) saluran cerna maka gangguan pencernaan yang disebabkan karena alergi paling sering ditemukan pada anak usia di bawah 2 tahun, yang paling sensitif di bawah 3 bulan. Dengan pertambahan usia secara bertahap imaturitas saluran cerna akan semakin membaik hingga pada usia 5 atau 7 tahun. Hal inilah yang menjelaskan kenapa alergi makanan akan berkurang dengan pertambahan usia terutama di atas 5 atau 7 tahun. Salah satu manifestasi klinis alergi yang berkaitan dengan gangguan saluran cerna adalah muntah. Bila dikaitkan dengan imaturitas saluran cerna tersebut maka gejala muntah pada anak juga akan membaik secara bertahap pada usia 2 hingga 7 tahun.
  • Gangguan muntah yang terjadi adalah sering muntah saat usia di bawah 3 bulan sampai lebih dari 3-5 kali perhari. Gejala muntah berangsur membaik saat di atas usia 3 bulan. Di atas 1 tahun keluhan muntah masih ada meskipun tidak tiap hari, Biasanya terjadi malam hari yang didahului batuk-batuk. Setelah muntah anak tidur terlelap seperti tidak mengalami gangguan. Di usia 1-5 tahun muntah biasanya terjadi saat menangis, batuk, tertawa keras atau berlari, atau saat di dalam kendaraan. Mudah mual (seperti muntah) saat disuap makanan.
  • Muntah kadang dianggap hal yang biasa dan akan membaik dalam usia tertentu. Tetapi bila berkepanjangan akan mengakibatkan berbagai gangguan pertahanan tubuh, gangguan motorik, dan gangguan perilaku pada anak.
BACA  Gangguan Perilaku Yang Menyertai Alergi Dewasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *