KLINIK DR WIDODO JUDARWANTO pediatrician

Stunting Sejak Dalam Kehamilan

Spread the love

Stunting bisa terjadi sejak dalam kehamilan. berbagai faktor dapat menjadi penyebab. Diagnosis dari gangguan ini biasanya diketahui melalui pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter kandungan pada trimester ke-2 atau ke-3. Penyebab gangguan ini bisa karena faktor ibu atau faktor bayi. Bila lahir dalam keadaan panjang badan yang tidak sesuai usia kehamilan maka harus dicermati sebagai ganggua stunting sejak dalam kehamilan. Untuk membedakan factor penyebab dari factor ibu atau factor anak bias divbedakan dalam pertambahan Berat dan Tingi Badan dalam usia 0 – 6 bulan. Bila kenaikkan BB dalam usia kurang dari 3 bulan awal 1 kg / bulan maka biasa penyebabnya factor ibu. Bila kenaikkannya hanya kurang dari 800 kg tiap bulan maka penyebabnya karena factor genetik bayi.

Data Global Nutrition Report 2016 mencatat jumlah balita stunting sebanyak 36,4 persen dari seluruh balita di Indonesia. Stunting mencerminkan kekurangan gizi kronis selama periode paling awal pertumbuhan dan perkembangan anak. Umumnya bagi seorang anak yang mengalami kurang gizi kronis, proporsi tubuh akan tampak normal, namun kenyataannya lebih pendek dari tinggi badan normal untuk anak-anak seusianya. Kondisi stunting sudah tidak bisa ditangani lagi bila anak memasuki usia dua tahun. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya stunting pada anak, ibu perlu mengonsumsi asupan gizi yang layak, terutama selama masa kehamilan hingga anak lahir dan berusia 18 bulan. Pada dasarnya, kelangsungan hidup dan kesehatan anak tidak dapat dipisahkan dari kesehatan Sang Ibu sendiri.

Penyebab 

Faktor Ibu

  • Penyakit kronis. Gangguan sistem tubuh kemungkinan menjadi penyebab pertumbuhan janin terhambat. Mulai dari gangguan pada jantung, penyakit diabetes, anemia, atau TBC, dapat menjadi penyebab pre-eclampsia
  • Fisik ibu yang kecil dan kenaikan berat badan yang kurang. Faktor keturunan dari ibu dapat memengaruhi berat badan janin. Kenaikan berat yang tidak mencukupi selama kehamilan dapat menyebabkan stunting. Kenaikan berat badan ibu selama kehamilan sebaiknya 9-12 kg. Sebisa mungkin, ibu hamil harus mengalami kenaikan berat badan ideal ini.
  • Kebiasaan buruk. Merokok, minum alkohol, dan menggunakan narkoba atau obat-obatan terlarang
  • Plasenta (ari-ari). Kelainan pada plasenta. Letak plasenta berada di bawah rahim atau dekat dengan serviks, akan membuat penyaluran nutrisi dari ibu ke janin menjadi terhambat. Akibatnya, berat janin pun tidak ideal.
  • Struktur tali pusat. Struktur tali pusat yang tidak normal, seperti adanya simpul atau lilitan, dapat menyebabkan gangguan tranportasi oksigen dan nutrisi kepada janin, sehingga pertumbuhan janin pun menjadi terhambat.
  • Infeksi selama hamil. Infeksi bakteri, virus, protozoaRubela dan cytomegalovirus (CMV) adalah infeksi
  • Faktor Bentuk Rahim. Kelainan pada bentuk rahim ibu hamil juga bisa menjadi penyebab dari pertumbuhan janin terhambat. Hal ini terkait dengan kemungkinan letak plasenta yang tidak cukup mendapatkan aliran darah.
  • Secara umum, kekerdilan atau stunting ini disebabkan oleh gizi buruk pada ibu, praktik pemberian dan kualitas makanan yang buruk, sering mengalami infeksi serta tidak menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
  • Gizi ibu dan praktik pemberian makan yang buruk
  • Stunting dapat terjadi bila calon ibu mengalami anemia dan kekurangan gizi. Wanita yang kekurangan berat badan atau anemia selama masa kehamilan lebih mungkin memiliki anak stunting, bahkan berisiko menjadi kondisi stunting yang akan terjadi secara turun-temurun.
  • Kondisi tersebut bisa diperburuk lagi bila asupan gizi untuk bayi kurang memadai, misalnya bayi diberikan air putih atau teh sebelum berusia enam bulan, karena pada usia ini bayi seharusnya diberikan Air Susu Ibu (ASI) secara ekslusif maupun susu formula sebagai penggantinya. Tidak hanya itu, gizi buruk yang dialami ibu selama menyusui juga dapat mengakibatkan pertumbuhan anak menjadi terhambat.
  • Sanitasi yang buruk. Stunting juga bisa terjadi pada anak-anak yang hidup di lingkungan dengan sanitasi dan kebersihan yang tidak memadai. Sanitasi yang buruk berkaitan dengan terjadinya penyakit diare dan infeksi cacing usus (cacingan) secara berulang-ulang pada anak. Kedua penyakit tersebut telah terbukti ikut berperan menyebabkan anak kerdil.
  • Tingginya kontaminasi bakteri dari tinja ke makanan yang dikonsumsi dapat menyebabkan diare dan cacingan yang kemudian berdampak kepada tingkatan gizi anak. Kontaminasi bakteri-bakteri tersebut juga dapat terjadi melalui peralatan dapur maupun peralatan rumah tangga lainnya yang tidak dicuci bersih maupun tidak mencuci tangan hingga bersih sebelum makan. Alhasil, bakteri bisa masuk melalui mulut. Praktik hidup seperti itu kemudian dapat mengurangi nafsu makan anak, menghambat proses penyerapan nutrisi di dalam tubuh anak, serta meningkatkan risiko kehilangan nutrisi.
  • Penyebab lain yang jarang. Anak yang terlahir dengan sindrom alkohol janin (Fetus Alcohol Syndrome/FAS) juga dapat mengalami stunting. FAS merupakan pola cacat yang dapat terjadi pada janin karena Sang Ibu mengonsumsi terlalu banyak minuman beralkohol saat sedang hamil. Anak dengan FAS memiliki sekelompok rangkaian gejala yang mencakup bentuk wajah yang berbeda dari anak normal, pertumbuhan fisik terhambat, serta beberapa gangguan mental.
BACA  Manifestasi Klinis dan Penanganan Intoleransi Protein Pada Bayi dan Anak

Faktor Anak

  • Genetik juga bisa menjadi penyebab gangguan stunting sejak alam kehamilan. Biasanya ini dapat dideteksi dengan profil fenotip atau kesamaan fisik antara saudara kandung dan salah satu orangtuanya. Penelitian awal peneliti menunjukkan kesamaan wajah atau fenotip akan membuat karakteristik profil fisik dan kesehatannya sama. Biasanya ada riwayat salah satu orang tua atau saudara dengan fenotip yang sama dengan karakteritik BB dan tinggi badan yang tidak optimal saat usia-usia tertentu khususnya dibawah usia 12 tahun.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)