KLINIK DR WIDODO JUDARWANTO pediatrician

Gastroesofageal Refluks, Alergi Makanan dan Gangguan Penyerta Lainnya

Gastroesophageal reflux (GER) dianggap sebagai peristiwa fisiologis normal tubuh manusia. Proses alami ini melibatkan regurgitasi isi lambung ke esofagus, yang kemudian dikeluarkan dan dinetralkan oleh beberapa faktor pelindung (misalnya peristaltik esofagus dan air liur). Pada beberapa individu, refluks isi lambung dan duodenum menuju esofagus menghasilkan gambaran klinis yang disebut penyakit refluks gastroesofagus (GERD), yang ditandai dengan terjadinya tanda dan gejala klinis berbeda yang biasanya terletak di esofagus (sindroma esofagus).  Organ lainnya juga dapat terpengaruh, seperti faring, laring, sistem pernapasan, rongga mulut dan gigi. Ketika ini terjadi, itu dikenal sebagai sindrom esofagus ekstra. Gejala klasik GERD adalah mulas dan rasa asam, tetapi disfagia, sakit tenggorokan, odynophagia, sensasi globus dan mual juga sering dilaporkan Gejala GER sering disertai gangguan manifestasi oral dan gigi. Banyak laporan ilmiah mengungkapkan bahwa gangguan GER seringkali berkaitan dengan alergi makanan atau alergi susu sapi. Beberapa penelitian mengungkapkan pada penderita alergi makananan, gangguan GER sering disertai gangguan hipersensitifitas kulit, saluran napas dan asma.

GERD adalah masalah kesehatan global dengan insiden dan prevalensi yang tinggi, dan menjadi lebih umum di antara anak-anak dan orang dewasa. GERD biasanya bermanifestasi pada dekade keempat kehidupan dengan kecenderungan untuk wanita, dan mempengaruhi hingga 20% populasi Eropa Barat dan Amerika Utara . Refluks gastroesofagus adalah fenomena fisiologis normal yang dialami oleh sebagian besar orang secara berkala, terutama setelah makan. Penyakit gastroesophageal reflux (GERD) terjadi ketika jumlah cairan lambung yang mengalir kembali ke esofagus melebihi batas normal, menyebabkan gejala dengan atau tanpa cedera mukosa esofagus terkait (yaitu, esophagitis)

Sebuah studi oleh Richter dan Survei Nasional Organisasi Gallup memperkirakan bahwa 25% -40% orang dewasa Amerika yang sehat mengalami GERD bergejala, paling sering dimanifestasikan secara klinis oleh pyrosis (mulas), setidaknya sebulan sekali. Selain itu, sekitar 7% -10% populasi orang dewasa di Amerika Serikat mengalami gejala tersebut setiap hari.

Pada kebanyakan orang dengan GERD, mekanisme pertahanan endogen membatasi jumlah bahan berbahaya yang masuk ke kerongkongan atau dengan cepat membersihkan bahan dari kerongkongan sehingga gejala dan iritasi mukosa esofagus diminimalkan. Contoh mekanisme pertahanan termasuk aksi sfingter esofagus bagian bawah (LES) dan motilitas esofagus normal. Ketika mekanisme pertahanan tubuh rusak atau menjadi kewalahan sehingga kerongkongan bermandikan asam atau empedu dan cairan yang mengandung asam untuk waktu yang lama, GERD dapat dikatakan ada.

Penderita GERD dapat menunjukkan berbagai gejala, baik yang khas maupun atipikal. Gejala khas termasuk mulas, regurgitasi, dan disfagia. Gejala atipikal termasuk nyeri dada nonkardiak, asma, pneumonia, suara serak, dan aspirasi. Pasien biasanya mengalami banyak episode gejala refluks harian, termasuk pirosis, rasa kurang sedap atau asam di mulut, batuk atau aspirasi di malam hari, pneumonia atau pneumonitis, bronkospasme, dan radang tenggorokan serta perubahan suara, termasuk suara serak. Selain itu, bukti obyektif dari kerusakan esofagus dapat dilihat pada esophagogastroduodenoscopy yang dimanifestasikan oleh tingkat inkremental esofagitis

Tes laboratorium jarang berguna dalam menegakkan diagnosis GERD. Manometri esofagus dan pemantauan pH dianggap penting sebelum melakukan operasi antireflux. Endoskopi menunjukkan bahwa 50% pasien tidak mengalami esofagitis. Satu-satunya cara untuk menentukan apakah terjadi refluks abnormal dan apakah gejala sebenarnya disebabkan oleh refluks gastroesofagus adalah melalui pemantauan pH. Akalasia bisa muncul dengan mulas. Hanya manometri esofagus dan pemantauan pH yang dapat digunakan untuk membedakan akalasia dari GERD. Terapi sangat berbeda untuk kedua kondisi tersebut.  GERD dirawat melalui pendekatan bertahap yang didasarkan pada modifikasi gaya hidup dan pengendalian sekresi lambung melalui perawatan medis atau bedah.

Gangguan GI adalah beberapa keluhan yang paling sering dikeluhkan selama kehamilan, dan gastroesophageal reflux adalah salah satu keluhan tersebut. Beberapa wanita memiliki gangguan GI tertentu yang unik untuk kehamilan, dan lainnya memiliki gangguan GI kronis yang memerlukan pertimbangan khusus selama kehamilan. Pemahaman tentang presentasi dan prevalensi berbagai gangguan GI diperlukan untuk mengoptimalkan perawatan bagi pasien ini.

Alergi makanan , muntah dan GER

  • Refluks gastroesofageal (GER) dan alergi susu sapi (CMA) sering terjadi pada bayi di bawah 1 tahun. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan antara 2 entitas ini telah diteliti dan beberapa kesimpulan penting telah dicapai: hingga setengah dari kasus APK pada bayi di bawah 1 tahun, mungkin ada hubungan dengan CMA. Dalam proporsi kasus yang tinggi, APK tidak hanya terkait dengan CMA tetapi juga diinduksi CMA. Frekuensi hubungan ini harus mendorong dokter anak untuk melakukan skrining untuk kemungkinan CMA bersamaan pada semua bayi yang memiliki APK dan berusia kurang dari 1 tahun. Dengan pengecualian pada beberapa pasien dengan manifestasi CMA khas ringan (diare, dermatitis, atau rinitis), gejala GER yang terkait dengan CMA adalah sama dengan gejala yang diamati pada GER primer. Tes imunologi dan pemantauan pH esofagus (dengan pola pH khas yang ditandai dengan penurunan pH esofagus yang progresif dan lambat antara pemberian makan) dapat membantu jika diduga ada hubungan antara GER dan CMA, meskipun respons klinis terhadap diet eliminasi dan tantangan adalah hanya petunjuk untuk diagnosis.
  • Refluks gastroesofageal (GER) pada bayi bisa menjadi penyebab sekunder dari alergi makanan. Beberapa peneliti mengamati  frekuensi GER dikaitkan dengan alergi protein susu sapi (CMPA) pada bayi <1 tahun dan mencoba menunjukkan laboratorium dan pemeriksaan instrumental yang berguna dalam mendiagnosis GER + CMPA. Setelah pengukuran pH esofagus 24 jam, endoskopi esofagus, dan diet eliminasi, diikuti dengan double-blind challenge, pasien dibagi menjadi empat kelompok: APK primer, APK sekunder CMPA, CMPA tanpa GER, dan kelompok kontrol dengan subjek menderita baik GER maupun CMPA. Tes imunologi yang paling berguna untuk diagnosis GER + CMPA adalah uji IgG anti-beta-laktoglobulin Terdapat bukti pelacakan karakteristik  dan nilai IgG anti-beta-laktoglobulin yang tinggi adalah tes yang spesifik dan sensitif untuk diagnosis GER + CMPA.
  • Secara mekanik integritas mukosa usus dan peristaltik merupakan pelindung masuknya alergi ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan rusaknya bahan penyebab alergi (denaturasi allergen). Secara imunologik sIgA pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal allergen (penyebab alergi) masuk ke dalam tubuh. Pada usia anak saluran cerna masih imatur (belum matang). Sehingga sistim pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan alergen masuk ke dalam tubuh. Gangguan saluran cerna yang berkaitan dengan alergi makanan tersebut sering diistilahkan sebagai gastroenteropati atopi.
  • Saluran cerna adalah target awal dan utama pada proses terjadinya alergi makanan. Karena penyebab utama adalah imaturitas (keitidak matangan) saluran cerna maka gangguan pencernaan yang disebabkan karena alergi paling sering ditemukan pada anak usia di bawah 2 tahun, yang paling sensitif di bawah 3 bulan. Dengan pertambahan usia secara bertahap imaturitas saluran cerna akan semakin membaik hingga pada usia 5 atau 7 tahun. Hal inilah yang menjelaskan kenapa alergi makanan akan berkurang dengan pertambahan usia terutama di atas 5 atau 7 tahun. Salah satu manifestasi klinis alergi yang berkaitan dengan gangguan saluran cerna adalah muntah. Bila dikaitkan dengan imaturitas saluran cerna tersebut maka gejala muntah pada anak juga akan membaik secara bertahap pada usia 2 hingga 7 tahun.
  • Gangguan muntah yang terjadi adalah sering muntah saat usia di bawah 3 bulan sampai lebih dari 3-5 kali perhari. Gejala muntah berangsur membaik saat di atas usia 3 bulan. Di atas 1 tahun keluhan muntah masih ada meskipun tidak tiap hari, Biasanya terjadi malam hari yang didahului batuk-batuk. Setelah muntah anak tidur terlelap seperti tidak mengalami gangguan. Di usia 1-5 tahun muntah biasanya terjadi saat menangis, batuk, tertawa keras atau berlari, atau saat di dalam kendaraan. Mudah mual (seperti muntah) saat disuap makanan.
    Muntah kadang dianggap hal yang biasa dan akan membaik dalam usia tertentu. Tetapi bila berkepanjangan akan mengakibatkan berbagai gangguan pertahanan tubuh, gangguan motorik, dan gangguan perilaku pada anak.

Etiopatogenia

  • Hambatan mekanis dan mekanisme fisiologis yang berbeda, seperti laju aliran saliva, mekanisme menelan dan gerak peristaltik esofagus, cenderung untuk menjaga keseimbangan APK. Gangguan pada faktor pengaturan ini dan peningkatan aliran isi lambung ke esofagus dan saluran pencernaan aero superior, dapat menyebabkan munculnya GERD
BACA  Permasalahan Diagnosis Alergi Makanan

Manifestasi Mulut dan Gigi

Tanda dan gejala Hipersensitif Mulut dan Gigi

Gigi dan mulut Nyeri gigi atau gusi tanpa adanya infeksi pada gigi, biasanya ditandai dengan anak sering menunjuk ke gusi atau gigi, gusi tampak putih atau bengakak (sering dia nggap tumbuh gigi, padahal bukan) biasanya berlangsung dalam 3 atau 7 hariLidah sering timbul putih (seperti jamur). Bibir tampak kering atau bibir bagian tengah berwarna lebih gelap (biru).

mulut berbau, kelaparan, haus, saliva (ludah) berlebihan atau meningkat,  sariawan, metallic taste in mouth (rasa logam dalam mulut, stinging tongue

bibir kering dan mudah berdarah. lidah putih atau kotor atau berpulau (geographic tongue)

Lidah sering putih seperti jamur. Sering sariawan stomatitis, Diujung mulut, mulut dan bibir sering kering,

“Impacted Gigi” (pembekakan dan nyeri geraham belakang). sering dianggap gigi tumbuh terlambat

Lidah muncul bintik2 hitam

Erosi gigi: Merupakan salah satu manifestasi ekstra-esofagus yang paling umum. Hingga 44% pasien GERD mengalami erosi gigi selama perjalanan penyakit. Biasanya mempengaruhi permukaan lingual atau palatal gigi anterior. Tingkat keparahannya bisa bervariasi, dengan kebanyakan kasus hanya menunjukkan kehilangan email yang ringan, sementara yang lain dapat memiliki eksposur dentin yang parah .

Xerostomia: Ada kemungkinan bahwa xerostomia muncul sebagai efek samping yang merugikan dari obat yang diminum untuk mengobati GERD, daripada disebabkan oleh GERD itu sendiri. Inhibitor pompa proton adalah obat pilihan pertama dan cenderung menyebabkan sensasi mulut kering

Halitosis: Meskipun faktor penentu utama dari halitosis atau bau mulut berhubungan dengan kondisi mulut pasien (misalnya masalah periodontal atau lapisan lidah), peningkatan risiko halitosis telah dilaporkan pada kasus GERD bergejala. Hal ini dijelaskan dengan berkurangnya fungsi sfingter esofagus bagian bawah, yang akan memfasilitasi aliran gas dan isi lambung ke kerongkongan, menghasilkan bau yang khas

Mucositis: Mungkin muncul karena kontak asam atau uapnya dengan mukosa mulut. Mukosa mulut terlihat eritematosa, umumnya pada langit-langit dan uvula, dan pasien mungkin mengeluhkan sensasi terbakar dan / atau nyeri. Dalam beberapa kasus, kerusakan hanya mikroskopis, sehingga tidak ada tanda klinis yang terlihat (tetapi pasien mungkin masih menuduh beberapa gejala, seperti sensasi terbakar) .

Lain-lain: Juga telah dilaporkan kejadian RAS yang lebih tinggi seperti ulserasi, rasa asam dan mulut terbakar. RAS seperti ulserasi mungkin terjadi akibat anemia atau defisiensi hematinik, yang tidak jarang terjadi pada pasien ini. Beberapa pasien mungkin juga mengalami sensitivitas jaringan mulut yang berlebihan terhadap rangsangan taktil (hyperesthesia) yang mungkin disebabkan oleh iritasi lokal oleh refluks lambung.

Labial bengkak dan pecah-pecah: Terdiri dari pembesaran kronis bibir dengan celah tegak lurus, retakan atau kerak di sepanjang vermilion

Tag mukosa: Juga dikenal sebagai tag atau lipatan epitel. Terdiri dari tag retikuler warna putih atau normal yang sering ditemukan di ruang depan dan regio retro-molar.  Muncul benjolan di gusi seperti abses tetapi bukan infeksi (biasanya nyeri ringan dan cenderung tidak nyeri)

Cobblestoning: Mukosa yugal menunjukkan plak warna normal yang dipisahkan oleh cekungan atau retakan ringan, memberikan tampilan batu bulat. Dalam beberapa keadaan, lesi ini bisa menyulitkan fungsi normalnya, seperti mengunyah

Mucogingivitis: Jaringan gingiva dapat menjadi hiperplasik dan granular, tidak hanya gingiva bebas tetapi juga gingiva yang melekat, dan dalam kasus tertentu lesi ini dapat meluas hingga margin mukogingiva

Ulserasi linier: Lesi ini biasanya terletak di sulkus bukal dan dapat disertai dengan mukosa hiperplastik di tepinya

Manifestasi oral non-spesifik:

Stomatitis aphtous rekuren (RAS) Secara klinis, RAS seperti ulserasi oral muncul sebagai serangan berulang biasanya ulkus superfisial multipel, bulat atau ovoid yang memiliki batas berbatas tegas yang dikelilingi oleh lingkaran cahaya eritematosa, secara klinis tidak dapat dipisahkan dari RAS. RAS seperti ulserasi harus dibedakan dari RAS, karena menurut definisi, RAS muncul pada pasien yang dalam keadaan sehat, yang tidak terjadi pada pasien ini. Berbeda dengan ulkus usus, mereka tidak memiliki signifikansi klinis. Lesi mirip RAS tidak spesifik pada Celiac Diseases, oleh karena itu terdapat beberapa kelainan (misalnya AIDS, penyakit celiac, sindrom Behcet, anemia). Tanda-tanda khas stomatitis adalah kemerahan dan pembengkakan yang mungkin melibatkan bagian mulut mana pun termasuk lidah, atap mulut, pipi, dan bibir (cheilitis). Kadang-kadang terbentuk lepuh dan bisul. Individu yang terkena mungkin mengeluh sensasi terbakar dan sensitivitas mulut terhadap makanan dingin, panas, dan pedas.

Angular cheilitis: Komisura dan kulit di sekitarnya mungkin memiliki fisura berulang dan plak eritematosa yang tidak selalu berhubungan dengan infeksi kandida. Menurut studi Lisciandrano dkk, ini adalah lesi yang paling umum di antara pasien IBD.

Pyostomatitis vegetans: Meskipun digambarkan sebagai manifestasi oral pada pasien dengan CD, ini lebih sering terjadi pada pasien dengan kolitis ulserativa dan karenanya akan dijelaskan pada bagian yang sesuai.

Reaksi lichenoid: Lesi-lesi ini menyerupai lichen planus dan terdiri dari garis-garis agak naik, tipis, keputihan yang menyatu membentuk pola mirip lacel. Kadang-kadang borok terletak di dalam lesi dan dikelilingi oleh garis keputihan (lihat Kanan). Lesi lichenoid ditemukan paling umum pada mukosa pipi tetapi dapat terjadi di seluruh mulut.

Angioedema: Angioedema adalah pembengkakan yang lembut, tidak nyeri, dan tidak gatal yang biasanya melibatkan bibir, lidah, atau pipi. Ini biasanya berkembang dengan cepat dan dapat menjadi peristiwa serius yang membutuhkan perawatan darurat, jika pembengkakan menyebar ke laring dan mengakibatkan kesulitan bernapas yang parah.

Erythema multiforme: Pada eritema multiforme baik kulit dan mulut mungkin terpengaruh. Lesi mulut dimulai sebagai pembengkakan dan kemerahan pada mukosa mulut, diikuti oleh pembentukan lepuh yang memecah dan meninggalkan area ulserasi. Bibir bisa menjadi bengkak dan mengembangkan kerak darah. Lesi kulit yang khas adalah “target” atau “lesi iris” yang terdiri dari cincin konsentris kulit merah yang dikelilingi oleh area kulit berwarna normal (lihat Kanan). Tingkat keterlibatan bisa sangat parah sehingga memerlukan rawat inap.

Gingivitis sel plasma: Gingivitis sel plasma muncul sebagai kemerahan dan pembengkakan pada gusi tanpa ulserasi (kehilangan sel kulit). Penampilan yang khas ini disebabkan oleh pengumpulan sel darah putih tertentu, yang disebut sel plasma, di gusi. Area lain yang mungkin terlibat termasuk lidah atau bibir. Kondisi yang dapat dibalik ini berbeda dari penyakit gusi, dan gejalanya sembuh begitu penyebabnya dihilangkan.

Oral allergy syndrome (OAS) adalah jenis alergi makanan yang dikelompokkan berdasarkan sekelompok reaksi alergi di mulut dan tenggorokan sebagai respons terhadap makan buah, kacang, dan sayuran tertentu (biasanya segar) yang biasanya berkembang pada orang dewasa dengan demam.

Gangguan oral non spesifik lainnya. Temuan oral non-spesifik lainnya yang dilaporkan dalam literatur: Termasuk limfadenopati submandibular, sindrom sicca dan hiposialia, karies gigi, halitosis, kandidiasis, disfagia, odynophagia, lichen planus, dysgeusia, glositis, perubahan warna mukosa, keterlibatan periodontal, eritema perioral dengan scaling dan saliva minor pembesaran kelenjar .

Tanda dan Gejala Alergi Saluran Cerna Pada Penderita GER

ORGAN/SISTEM TUBUH GEJALA DAN TANDA
Sistem Pencernaan Sering muntah atau gumoh, dalam keadaan tertentu sering disebut gastrooesephageal refluksSering kembung, dan perut berbunyi “keroncongan” saat digendong atau diraba.

Sering “cegukan” (hicup) bila sering cegukan biasanya bayi sulit untuk disendawakan.

Sering buang angin, kadang  berbau tajam

Sering “ngeden” atau “mulet”. Pada penderita dengan ngeden yang berlebihan seringkali disertai gangguan kulit kuning yang berkepanjangan atau kuning yang tinggi saat pulang dari kelahiran ke rumah. Bila ngeden berlebihan tekanan perut akan meningkat sehingga beresiko terjadi Hernia Umbilikalis (pusar menonjol, “pusar bodong”), Scrotalis, inguinalis (benjolan di selangkangan, daerah buah zakar atau pusar atau “turun berok”)  atau terjadi hidrokel atau pem,besaran karena cairtan pada pada kantong buah zakar. Pada beberapa kasus juga gangguan ini mengakibatkan  pusar yang mengeluarkan bercak darah sedikit pada usia di bawah 1-2 bulan. Beberapa kasus yang lain keadaan ini seringkali mengakibatkan pusar masih basah dan sulit kering.

Sering REWEL dan  GELISAH atau COLIK

Sering buang air besar (> 3 kali perhari)

Tidak BAB tiap hari, bahkan kadang sampai 3- 5 hari lebih. Pada keadaan tertentu sering dikelirukan dengan Penyakit Hiscrhprung. Bila terdapat berbagai gangguan hipersensitifitas saluran cerna lainnya sebaiknya bila diagnosis  Penyakit Hiscrhprung meragukan segera mencari “second opinion” ke dokter lainnya.

Feses berwarna hijau, kadang berlendir, berbau tajam. Kadang diseratai BERAK DARAH.

burping (glegekan/sendawa), retasting foods, ulcer symptoms, kembung, indigestion, mual, muntah, perut terasa penuh, gangguan mengunyah dan menelan, perut keroncongan,

diare (mudah buang air besar cair dan sering BAB 3 kali sehari atau lebih ), buang air besar di celana, kecipirit.

sering buang angin dan besar-besar dan panjang, berbau tajam

anus gatal atau panas, kadang keluar cairan dari rektum sedikit gatal

Tandan dan Gejala Alergi Makanan Sistem Tubuh pada GER

ORGAN/SISTEM TUBUH GEJALA DAN TANDA
1 Sistem Pernapasan Batuk, pilek, bersin, sesak(astma), napas pendek, wheezing,banyak lendir di saluran napas atas (mucus bronchial) sering batuk pendek

rattling dan vibration dada.

2 Sistem Pembuluh Darah dan jantung Palpitasi (berdebar-debar), flushing (muka ke merahan)nyeri dada, pingsan, tekanan darah rendah,

denyut jantung meningkat, skipped beats, hot flashes, pallor; tangan hangat, kedinginan, kesemutan, redness or blueness of hands; pseudo-heart attack pain (nyeri dada mirip sertangan jantung)

nyeri dada depan, tangan kiri, bahu, leher, rahang hingga menjalar di pergelangan tangan.

Vaskulitis (sering lebam kebiruan seperti bekas terbentur padahal bukan terbentur pada daerah lengan atas dan lengan bawah)

3 Sistem Pencernaan GERD (Gastrooesephageal Refluks Disease), Maag, Dispepsia, IBS (Irritable Bowel Syndrome) , mual, muntahNyeri perut

sering diare, kembung

sulit berak (konstipasi), sering buang angin (flatus)

mulut berbau, kelaparan, haus, saliva (ludah) berlebihan atau meningkat, canker sores, sariawan, metallic taste in mouth (rasa logam dalam mulut, stinging tongue, nyeri gigi,

burping (glegekan/sendawa), retasting foods, ulcer symptoms, nyeri ulu hati, indigestion, mual, muntah, perut terasa penuh, gangguan mengunyah dan menelan, perut keroncongan,

Nyeri Perut (spastic colitis, “emotional colitis,” kolik kandung empedu gall bladder colic, cramp)

diare (mudah buang air besar cair dan sering BAB 3 kali sehari atau lebih ), buang air besar di celana, kecipirit.

sering buang angin dan besar-besar dan panjang,

timbul lendir atau darah dari rectum

anus gatal atau panas.

4 Kulit Sering gatal, dermatitis, urticaria, bengkak di bibir, lebam biru (seperti bekas terbentur) bekas hitam seperti digigit nyamuk. Kulit kaki dan tangan kering tapi wajah berminyak. Sering berkeringat.
5 Telinga Hidung Tenggorokan Hidung : Hidung buntu, bersin, hidung gatal, pilek,post nasal drip (banyak lender di tenggorokan karena turunnya lender dari pangkal hidung ke tenggorokan

, epitaksis (hidung berdarah) , tidur mendengkur, mendengus

Tenggorok : tenggorokan nyeri/kering/gatal, palatum gatal, suara parau/serak, batuk pendek (berdehem)

Telinga : telinga terasa penuh/ bergemuruh / berdenging, telinga bagian dalam gatal, nyeri telinga dengan gendang telinga kemerahan atau normal, gangguan pendengaran hilang timbul, terdengar suara lebih keras, akumulasi cairan di telinga tengah, pusing, gangguan keseimbangan.

Pembesaran kelenjar di sekitar leher dan kepala belakang bawah

6 Sistem Saluran Kemih dan kelamin Sering kencing, nyeri kencing; tidak bisa mengontrol kandung kemih, bedwetting; vaginal dischargegenitalia / alat kelamin: gatal/bengkak/kemerahan/nyeri; nyeri bila berhubungan kelamin
7 Sistem Susunan Saraf Pusat Sering sakit kepala, migrain, short lost memory (lupa nama orang, barang sesaat), floating (melayang), kepala terasa penuh atau membesar.Perilaku : Therapy terapi: impulsif, sering Marah, buruknya perubahan suasana hati (gangguan mood), kompulsif mengantuk, mengantuk, pusing, bingung, pusing, ketidakseimbangan, jalannya sempoyongan, lambat, lambat, membosankan, kurang konsentrasi, depresi, menangis, tegang, marah, mudah tersinggung, cemas, panik, dirangsang, agresif, overaktif, ketakutan, gelisah, manik, hiperaktif dengan ketidakmampuan belajar, gelisah, kejang, kepala terasa penuh atau membesar, sensasi melayang,  gangguan memori jangka pendek (short memory losy), salah membaca atau membaca tanpa pemahaman, variasi ektrim dalam tulisan tangan, halusinasi, delusi, paranoia

Bicara Gagap, claustrophobia, kelumpuhan, katatonik, disfungsi persepsi, gejala khas keterbelakangan mental impulsif.

Sensitif dan mudah marah, impulsif (bila tertawa atau bicara berlebihan), overaktif, deperesi, terasa kesepian merasa seperti terpisah dari orang lain, kadang lupa nomor, huruf dan nama sesaat, lemas (flu like symtomp)

8 Sistem Hormonal Kulit berminyak (atas leher), kulit kering (bawah leher), endometriosis,Premenstrual Syndrome (Nyeri dan gangguan lainnya saat haid, kemampuan sex menurun,

Chronic Fatique Symptom (sering lemas),

Gampang marah, Mood swing, sering terasa kesepian, rambut rontokKeputihan, jerawat.

9 Jaringan otot dan tulang Nyeri tulang, nyeri otot, nyeri sendi, Growing pain (nyeri kaki pafa anak)Fatigue, kelemahan otot, nyeri, bengkak, kemerahan local pada sendi

stiffness, joint deformity; arthritis soreness,

nyeri dada

otot bahu tegang, otot leher tegang, spastic umum, , limping gait, gerak terbatas

10 Gigi dan mulut Nyeri gigi atau gusi tanpa adanya infeksi pada gigi (biasanya berlangsung dalam 3 atau 7 hari).Gusi sering berdarah. Sering sariawan.

Diujung mulut, mulut dan bibir sering kering,

sindrom oral dermatitis.

Geraham belakang nyeri sering dianggap sebagai Tooth Impacted (tumbuh gigi geraham miring)

11 Mata nyeri di dalam atau samping matamata berair, sekresi air mata berlebihan, warna tampak lebih terang, kemerahan dan edema palpebral

Kadang mata kabur, diplopia, kadang kehilangan kemampuan visus sementara, hordeolum (bintitan).

Meskipun terekspresi terutama di saluran gastrointestinal (GI), gangguan pencernaan dapat menimbulkan gejala di luar sistem pencernaan, atau di bagian sistem ini yang jauh dari lokasi penyakit primer. Beberapa kondisi GI dapat menimbulkan gejala di rongga mulut, di dalam jaringan di dalam atau di sekitar mulut. Ini sebenarnya bisa terjadi sebelum tanda-tanda usus atau dalam hubungannya dengan indikasi lain, dan bisa disebabkan oleh penyakit itu sendiri, atau dihasilkan oleh efek sekunder seperti asimilasi nutrisi yang tidak efektif oleh usus yang terganggu (malabsorpsi).

Menariknya, beberapa kondisi mulut bahkan dapat menyebabkan penyakit gastrointestinal. Misalnya, dalam tinjauan retrospektif pada kesehatan 52.000 dokter pria, peneliti mengamati bahwa pria dengan riwayat penyakit gusi memiliki risiko 63% lebih besar terkena kanker pankreas dibandingkan pria tanpa penyakit periodontal. Penyakit gusi yang terus-menerus menyebabkan penumpukan bakteri berbahaya tingkat tinggi di mulut dan usus, yang dapat menyebabkan kanker.

Gejala oral, meskipun tidak cukup untuk memberikan diagnosis definitif sendiri, dapat menjadi faktor signifikan dalam mengarahkan dokter ke diagnosis GI positif dan mendorong mereka untuk menyelidiki saluran GI lebih lanjut untuk kemungkinan sumber distres.

GER dan gangguan Alergi 

  • Penyakit gastroesophageal reflux (GERD) dapat menyebabkan beberapa gejala saluran napas bagian atas dan mengubah fisiologi mukosa nasofaring, sementara penyakit saluran napas bagian atas pada gilirannya juga dapat memperburuk gejala GERD. Untuk waktu yang lama, asma dianggap sebagai faktor risiko GERD dalam literatur. Asma dan rinitis alergi (AR) biasanya diidentifikasi sebagai penyakit saluran napas yang bersatu menurut epidemiologi dan patofisiologi yang serupa; namun, hubungan antara AR dan GERD masih kurang jelas.
  • Rinitis Alergi tampaknya memiliki korelasi yang lebih kuat dengan GERD daripada asma, meskipun asma dapat meningkatkan risiko GERD melalui jalur tertentu yang juga dimiliki oleh AR.
  • Gangguan GER seringkali disertai dermatitis atopi atau hipersensitifitas kulit lainnya

GANGGUAN PERKEMBANGAN DAN PERILAKU RINGAN YANG SERING MENYERTAI  PENDERITA HIPERSENSITIFITAS SALURAN CERNA PADA BAYI

  • GANGGUAN NEURO FUNGSIONAL : Mudah kaget bila ada suara yang mengganggu. Gerakan tangan, kaki dan bibir sering gemetar. Kaki sering dijulurkan lurus dan kakuBreath Holding spell : bila menangis napas berhenti beberapa detik kadang disertai sikter bibir biru dan tangan kaku. Mata sering juling (strabismus). Kejang tanpa disertai ganggguan EEG (EEG normal)
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN  Usia < 1 bulan sudah bisa miring atau membalikkan badan.  Usia < 6 bulan: mata/kepala bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak berlebihan, tidak bisa diselimuti (“dibedong”). Kepala sering digerakkan secara kaku ke belakang, sehingga posisi badan bayi “mlengkung” ke luar. Bila digendomg tidak senang dalam posisi tidur, tetapi lebih suka posisi berdiri.  Usia > 6 bulan bila digendong sering minta turun atau sering bergerak/sering menggerakkan kepala dan badan atas ke belakang, memukul dan membentur benturkan kepala. Kadang timbul kepala sering bergoyang atau mengeleng-gelengkan kepala. Sering kebentur kepala atau jatuh dari tempat tidur.
  • EMOSI MENINGKAT, sering menangis, berteriak dan bila minta minum susu sering terburu-buru tidak sabaran.
  • GANGGUAN TIDUR  (biasanya MALAM-PAGI) gelisah,bolak-balik ujung ke ujung; bila tidur posisi “nungging” atau tengkurap; berbicara, tertawa, berteriak dalam tidur; sulit tidur atau mata sering terbuka pada malam hari tetapi siang hari tidur terus; usia lebih 9 bulan malam sering terbangun atau tba-tiba duduk dan tidur lagi,
  • AGRESIF MENINGKAT, pada usia lebih 6 bulan  sering memukul muka atau menarik rambut orang yang menggendong. Sering menggigit, menjilat tangan atau punggung orang yang menggendong. Sering menggigit putting susu ibu bagi bayi yang minum ASI, Setelah usia 4 bulan sering secara berlebihan memasukkan sesuatu ke mulut. Tampak anak sering memasukkan ke dua tangan atau kaki ke dalam mulut.
  • GANGGUAN KONSENTRASI : cepat bosan thd sesuatu aktifitas bermain, bila diberi cerita bergambar sering tidak bisa lama memperhatikan.
  • GANGGUAN MOTORIK DAN KOORDINASI : Pada POLA PERKEMBANGAN NORMAL adalah BOLAK-BALIK, DUDUK, MERANGKAK, BERDIRI DAN BERJALAN  sesuai usia. Pada gangguan keterlambatan motorik biasanya baru bisa bolak balik pada usia lebih 5 bulan, usia 6 – 8 bulan tidak duduk dan merangkak, setelah usia 8 bulan langsung berdiri dan berjala

Berbagai tanda dan gejala tersebut seringkali timbul dan berkurangnya secara bersamaan. Gangguan tersebut dapat meningkat atau lebih terganggua karena2 hal utama

  • Bila berbagai gangguan tersebut ringan biasanya penyebabnya karena reaksi akibat makanan bisa karena susu formula yang dikonsumsi atau makanan ibu yang dapat melalui ASI yang ikut terkonsumsi bayi.
  • Bila berbagai gangguan tersebut tidak ringan biasanya penyebabnya karena bayi mengalami infeksi virus ringan  atau flu. Gangguan flu atau infeksi saluran napas pada bayi sangat ringan kadang hanya berupa bersin lebih sering, batuk hanya sekali-sekali, napas bunyi grok-grok semakin keras terdengar. Bayi biasanya teraba kepala atau badannya agak sedikit hangat tetapi bila diukur dengen termometer suhunya normal. Bila ini terjadi biasanya terdapat orang dekat bayi yang mengalami sakit flu ringan. Bisa saja kakak, ayah, ibu, nenek atau pengasuh yang sering menggendong. Flu atau infeksi virus ringan pada orang dewasa kadang hanya berupa badan ngilu, pegal atau sering dikira kecapekan. Biasanya kadang disertai nyeri tenmggorokan, sakit kepala dan hanya berlangsung 1-2 hari saja, atau sering diangga flu tidak jadi.

Pengobatan

  • Penggunaan inhibitor pompa proton adalah pengobatan pilihan. Ini memberikan keuntungan sebagai non-invasif, hemat biaya dan dapat berfungsi sebagai kriteria diagnostik untuk GERD. Dalam beberapa kasus, terapi obat tidak cukup untuk mengontrol gejalanya, sehingga operasi anti-refluks dapat dipertimbangkan
  • Bila Gangguan GER disertai gangguan alergi atau hipersensitifitas kulit dan saluran napas atau hidung maka alergi makanan harus dipertimbangkan sebagai penyebab. Bila hal itu terjadi dapat dilakukan penegakkan diagnosis dengan melakukan eliminasi provokasi makanan di bawah pengawasan dokter ahli alergi.
  • Pengobatan jangka panjang pada penderita GER dengan disertai gangguan alergi adalah bentuk kegagalan mengidentifikasi dan menghindari penyebab alergi makanan

Referensi

  • Sampson HA, Anderson JA. Summary and recommendations: classification of gastrointestinal manifestations due to immunologic reactions to foods in infants and young children. J Pediatr Gastroenterol Nutr.2000; 30 :S87 –S94
  • Sampson HA, Sicherer SH, Birnbaum AH. AGA technical review on the evaluation of food allergy in gastrointestinal disorders. Gastroenterology.2001; 120 :1026 –1040
  • Susan M Harding. Gastroesophageal reflux: a potential asthma trigger. Immunol Allergy Clin North Am. 2005 Feb;25(1):131-48. doi: 10.1016/j.iac.2004.09.006.
  • Halpin TC, Byrne WJ, Ament ME. Colitis, persistent diarrhea, and soy protein intolerance. J Pediatr.1977; 91 :404 –407
  • Staiano A, Troncone R, Simeone D, et al. Differentiation of cows’ milk intolerance and gastro-oesophageal reflux. Arch Dis Child.1995; 73 :439 –442
  • Yu-Min Kung, Pei-Yun Tsai, Yu-Han Chang,3 Yao-Kuang Wang, Meng-Shu Hsieh, Chih-Hsing Hung, Chao-Hung Kuoco. Allergic rhinitis is a risk factor of gastro-esophageal reflux disease regardless of the presence of asthma. Sci Rep. 2019; 9: 15535. Published online 2019 Oct 29. doi: 10.1038/s41598-019-51661-4
  • Cavataio F, Iacono G, Montalto G, et al. Gastroesophageal reflux associated with cow’s milk allergy in infants: which diagnostic examinations are useful? Am J Gastroenterol.1996; 91 :1215 –1220
  • Cavataio F, Iacono G, Montalto G, Soresi M, Tumminello M, Carroccio A. Clinical and pH-metric characteristics of gastro-oesophageal reflux secondary to cows’ milk protein allergy. Arch Dis Child.1996; 75 :51 –56
  • Iacono G, Carroccio A, Cavataio F, et al. Gastroesophageal reflux and cow’s milk allergy in infants: a prospective study. J Allergy Clin Immunol.1996; 97 :822 –827
  • Ravelli AM, Tobanelli P, Volpi S, Ugazio AG. Vomiting and gastric motility in infants with cow’s milk allergy. J Pediatr Gastroenterol Nutr.2001; 32 :59 –64
  • Milocco C, Torre G, Ventura A. Gastro-oesophageal reflux and cows’ milk protein allergy. Arch Dis Child.1997; 77 :183 –184

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)

× Konsultasi Kesehatan Whatsapp, Klik Di sini