KLINIK DR WIDODO JUDARWANTO pediatrician

Cegukan Pada Bayi dan Hipersensitifitas Saluran Cerna

Spread the love

Cegukan terjadi saat diafragma bayi berkontraksi. Ini memaksa udara keluar melalui pita suara tertutup, menciptakan suara cegukan. Cegukan bayi disebabkan oleh kontraksi diafragma dan pita suara yang ditutup dengan cepat. Penutupan pita suara yang cepat inilah yang menciptakan suara cegukan. Karena cegukan cenderung mengganggu orang dewasa, banyak orang beranggapan bahwa cegukan juga mengganggu bayi. Namun, bayi biasanya tidak terpengaruh olehnya. Faktanya, banyak bayi yang dapat tidur melalui serangan cegukan tanpa diganggu, dan cegukan jarang mengganggu atau memengaruhi pernapasan bayi. Penyebab cegukan pada bayi masih belum jelas terungkap. Beberapa laporan ilmiah menyebutkan cegukan sering disertai pada gangguan GERD (Gastroesophageal Reflux)  dan Eosinofilik esofagitis (EoE) penyakit esofagus kronis yang mengalami cegukan persisten dan dispepsia intermiten.

Cegukan biasanya tidak membahayakan bayi. Meskipun orang dewasa mungkin merasa cegukan tidak nyaman, cegukan cenderung tidak menyebabkan stres pada bayi. Biasanya meninggalkan bayi untuk menghentikan cegukan tidak masalah. Jika mereka tidak berhenti, ada baiknya berbicara dengan dokter.

Tidak selalu jelas apa yang menyebabkan cegukan tertentu pada bayi. Namun, selama bayi Anda tidak muntah karena cegukan, tidak terlihat terganggu olehnya, dan berusia di bawah 1 tahun, cegukan dapat menjadi bagian normal dari perkembangan.

Cegukan akan hilang saat bayi Anda mencapai ulang tahun pertamanya. Namun, jika terus berlanjut setelah waktu tersebut, atau jika bayi Anda terlihat kesal atau tidak normal, bicarakan dengan dokter Anda. Seorang dokter akan dapat mengesampingkan kemungkinan penyebab lainnya.

Penulis studi dari tahun 2012 menunjukkan bahwa refleks cegukan dapat berfungsi untuk menghilangkan udara berlebih dari perut. Namun, komunitas medis masih tidak yakin apakah cegukan memiliki tujuan. Cegukan terjadi ketika sesuatu menyebabkan diafragma kejang, dan pita suara cepat menutup. Udara dipaksa keluar melalui pita suara yang tertutup, menciptakan suara cegukan. Diafragma adalah otot besar yang membentang di bagian bawah tulang rusuk. Itu bergerak ke atas dan ke bawah saat seseorang bernafas.

Cegukan pada bayi cenderung terjadi tanpa alasan yang jelas, tetapi pemberian makan terkadang dapat menyebabkan diafragma kejang. Mereka mungkin terjadi ketika bayi:

  • makan berlebih
  • makan terlalu cepat
  • menelan terlalu banyak udara
  • Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan perut bayi membesar. Saat mengembang, ia mendorong diafragma, memicu kejang yang menyebabkan cegukan.
  • Jika cegukan sering terjadi dan menyebabkan stres, hal itu mungkin terjadi akibat kondisi kesehatan yang mendasari, seperti gastroesophageal reflux (GER). Ini terjadi ketika makanan yang dicerna sebagian dan asam lambung naik kembali melalui pipa makanan. Saat cairan ini melewati diafragma, mereka dapat mengiritasi dan memicu kejang. Masalah makan atau perut mungkin tidak selalu menyebabkan cegukan. Diafragma mungkin kejang karena alasan yang tidak diketahui.

Cegukan Sering disertai Hipersensitif Saluran Cerna lainnya

Penulis telah mengamati 35 bayi dengan keluhan cegukan lebih dari 2 minggu. Ternyata hampir sebagaian besar dikuti oleh gangguan hipersesitif saluran cerna, hipersensitif kulit dan hipersensitif saluran napas. Berbagai tanda dan gejala gangguan hipersensitifitas saluran cerna pada bayi sangat beragam. Gangguan fungsi saluran cerna tersebut pada umumnya dianggap normal. Meski demikian dalam berbagai hal sering mengakibatkan kepanikan dan kekawatiran pada orangtua terutama ibu muda yang baru mempunyai anak. Tanda dan gejala yang paling sering adalah anak sering terbangun malam, sering kehausan minta minum dan gangguan buang air besar. Gangguan tersebut dapat bersifat ringan hingga sampai berat. Gangguan ini sering terjadi pada bayi dengan gangguan alergi dan hipersensitif makanan

Gastroesophageal reflux (GER) telah dilaporkan menjadi penyebab cegukan. Sebaliknya, beberapa laporan menyatakan bahwa cegukan menyebabkan atau berdampak buruk pada penyakit GER. Ada beberapa deskripsi dalam literatur tentang apa yang dilakukan cegukan terhadap motilitas esofagus. Kami menghadirkan pasien dengan GER simtomatik yang telah berlangsung lama dan cegukan yang tidak dapat diatasi. Manometri esofagus selama cegukan menunjukkan tidak adanya tekanan LES dan tidak adanya aktivitas peristaltik di tubuh esofagus sebagai respons terhadap menelan, faktor-faktor yang dapat memperburuk GER. Motilitas esofagus dengan tidak adanya cegukan normal.

Ketidakmatangan Saluran Cerna (imaturitas Saluran Cerna)

Berbagai gangguan  hipersensitifitas pada bayi itu  itu terjadi karena belum sempurnanya saluran cerna. Secara mekanik integritas mukosa usus dan peristaltik merupakan pelindung masuknya alergen ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan denaturasi allergen. Secara imunologik sIgA pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal allergen masuk ke dalam tubuh. Pada usus imatur sistem pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan alergen, virus dan bakteri masuk ke dalam tubuh. Dengan pertambahan usia, ketidakmatangan saluran cerna tersebut semakin membaik.

Pada usia setelah 3 bulan biasanaya kebiasaan minum malam, atau terbangun malam hari seringkali akan mmbaik setelah usia 3 bulan. Biasanya setelah 2 tahun saluran cerna tersebut berangsur membaik. Hal ini juga yang mengakibatkan penderita alergi  sering sakit pada usia sebelum 2 tahun. Fenomena tersebut juga menunjukkan bahwa sewaktu bayi atau usia anak mengalami alergi makanan tetapi dalam pertambahan usia membaik.

Tanda dan gejala hipersensitifitas saluran cerna yang di alami bayi di bawah usia 3 bulan tersebut adalah :

  • Sering muntah atau gumoh, dalam keadaan tertentu sering disebut gastrooesephageal refluks
  • Sering kembung, dan perut berbunyi “keroncongan” saat digendong atau diraba.
  • Sering “cegukan” (hicup) bila sering cegukan biasanya bayi sulit untuk disendawakan.
  • Sering buang angin, kadang  berbau tajam
  • Sering “ngeden” atau “mulet”. Pada penderita dengan ngeden yang berlebihan seringkali disertai gangguan kulit kuning yang berkepanjangan atau kuning yang tinggi saat pulang dari kelahiran ke rumah. Bila ngeden berlebihan tekanan perut akan meningkat sehingga beresiko terjadi Hernia Umbilikalis (pusar menonjol, “pusar bodong”), Scrotalis, inguinalis (benjolan di selangkangan, daerah buah zakar atau pusar atau “turun berok”)  atau terjadi hidrokel atau pem,besaran karena cairtan pada pada kantong buah zakar. Pada beberapa kasus juga gangguan ini mengakibatkan  pusar yang mengeluarkan bercak darah sedikit pada usia di bawah 1-2 bulan. Beberapa kasus yang lain keadaan ini seringkali mengakibatkan pusar masih basah dan sulit kering.
  • Sering REWEL dan  GELISAH atau COLIK
  • Sering buang air besar (> 3 kali perhari)
  • Tidak BAB tiap hari, bahkan kadang sampai 3- 5 hari lebih. Pada keadaan tertentu sering dikelirukan dengan Penyakit Hiscrhprung. Bila terdapat berbagai gangguan hipersensitifitas saluran cerna lainnya sebaiknya bila diagnosis  Penyakit Hiscrhprung meragukan segera mencari “second opinion” ke dokter lainnya.
  • Feses berwarna hijau, kadang berlendir, berbau tajam
  • BERAK DARAH.
  • Lidah sering timbul putih (seperti jamur). Bibir tampak kering atau bibir bagian tengah berwarna lebih gelap (biru).
BACA  Bingung Puting Pada Bayi, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Tanda dan Gejala lain yang sering menyertai

  • Kulit sensitif, sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut.Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Mata, telinga dan daerah sekitar rambut sering gatal, disertai pembesaran kelenjar di kepala belakang. Kotoran telinga berlebihan kadang sedikit berbau.
  • Hiperreaktifitas Bronkus. Napas bunyi  grok-grok, kadang disertai batuk sesekali terutama malam dan pagi hari siang hari hilang. Bayi seperti ini beresiko sering batuk atau bila batuk sering lama (>7hari) dan dahak berlebihan )
  • Sesak bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB). BILA BERAT SEPERTI PARU-PARU TIDAK MENGEMBANG (LIKE RDS) Bayi usia cukup bulan (9 bulan) secara teori tidak mungkin terjadi paru2 yang belum mengembang. Paru tidak mengembang hanya terjadi pada bayi usia kehamilan < 35 minggu)  Bayi seperti ini menurut penelitian beresiko asthma (sering batuk/bila batuk sering dahak berlebihan )sebelum usia prasekolah.
  • Bersin dan sering buka mulut. Sering bersin, pilek, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena hidung buntu, atau minum dominan hanya satu sisi bagian payudara. Kepala yang sering miring ke salah satu sisi ini  akan mengakibatkan kepala “peyang” atau mata juling ringan.
  • Mulut sering terbuka. Karena hidung buntu, muluit sering terbuka bernapas dengan mulut waktu minum ASI sering tersedak
  • Mata sering berair atau sering timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi/kedua sisi.
  • Sering berkeringat (berlebihan)
  • Tanda Haus Palsu atau Bayi sering minta minum berlebihan padahal tidak haus. Bayi sulit dibedakan apakah karena haus atau karena ada yang tiodak nyaman di perutnya. Dalam keadaan ini seringkali ibu tidak percaya diri saat memberi ASI, karena meski sudah diberi minum lama tetapi bayi tetapi menangis terus seperti minta minum. Hal inilah yang sering mengacaukan ASI ekslusif, akhirmnya ibu tidak tega dan memberi minuman botol. Pada bayi dengan gangguan hipersensitifitas saluran cerna ini biasanya mengalami rasa tidak nyaman di perut. Sehingga mengakibatkan sering rewel atau sering seperti minta minum. Mulut sering terbuka dan mencari minum, biasanya bayi sering hanya ingin “ngempeng”. Namun bila diberi ASI sering hanya mau sesaat tapi setelah itu menolak karena memang tidak haus, tetapi saat disodori minum botol langusng minum karena perbedaan bsaat minum botol susu keluar dengan sendirinya sehingga bayi terpakasa menghisap. Tetapi saat diberi ASI bayi tidak mau menyedot karena untuk keluar ASI harus mengeluarkan tenaga hisapan, dan bayi tidak mau menghisap karena memang tidak haus. Karakteristik lainnya biasanya bayi minum sangat lama lebih dari 30 menit hingga 1 jam, krena hanya ngempeng tidak minum. Karena minum yang berlebihan atau sering minta minum berakibat berat badan lebih dan kegemukan (umur <1tahun). Sebaliknya terjadi berat badan turun setelah usia 4-6 bulan, karena makan dan minum berkurang
  • Kepala, telapak tangan atau telapak kaki sering teraba sumer/hangat.
  • Mempengaruhi gangguan hormonal : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok, timbul banyak bintil kemerahan dengan cairan putih (eritema toksikum) atau papula warna putih

GANGGUAN PERKEMBANGAN DAN PERILAKU RINGAN YANG SERING MENYERTAI  PENDERITA HIPERSENSITIFITAS SALURAN CERNA PADA BAYI

  • GANGGUAN NEURO FUNGSIONAL : Mudah kaget bila ada suara yang mengganggu. Gerakan tangan, kaki dan bibir sering gemetar. Kaki sering dijulurkan lurus dan kakuBreath Holding spell : bila menangis napas berhenti beberapa detik kadang disertai sikter bibir biru dan tangan kaku. Mata sering juling (strabismus). Kejang tanpa disertai ganggguan EEG (EEG normal)
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN  Usia < 1 bulan sudah bisa miring atau membalikkan badan.  Usia < 6 bulan: mata/kepala bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak berlebihan, tidak bisa diselimuti (“dibedong”). Kepala sering digerakkan secara kaku ke belakang, sehingga posisi badan bayi “mlengkung” ke luar. Bila digendomg tidak senang dalam posisi tidur, tetapi lebih suka posisi berdiri.  Usia > 6 bulan bila digendong sering minta turun atau sering bergerak/sering menggerakkan kepala dan badan atas ke belakang, memukul dan membentur benturkan kepala. Kadang timbul kepala sering bergoyang atau mengeleng-gelengkan kepala. Sering kebentur kepala atau jatuh dari tempat tidur.
  • EMOSI MENINGKAT, sering menangis, berteriak dan bila minta minum susu sering terburu-buru tidak sabaran.
  • GANGGUAN TIDUR  (biasanya MALAM-PAGI) gelisah,bolak-balik ujung ke ujung; bila tidur posisi “nungging” atau tengkurap; berbicara, tertawa, berteriak dalam tidur; sulit tidur atau mata sering terbuka pada malam hari tetapi siang hari tidur terus; usia lebih 9 bulan malam sering terbangun atau tba-tiba duduk dan tidur lagi,
  • AGRESIF MENINGKAT, pada usia lebih 6 bulan  sering memukul muka atau menarik rambut orang yang menggendong. Sering menggigit, menjilat tangan atau punggung orang yang menggendong. Sering menggigit putting susu ibu bagi bayi yang minum ASI, Setelah usia 4 bulan sering secara berlebihan memasukkan sesuatu ke mulut. Tampak anak sering memasukkan ke dua tangan atau kaki ke dalam mulut.
  • GANGGUAN KONSENTRASI : cepat bosan thd sesuatu aktifitas bermain, bila diberi cerita bergambar sering tidak bisa lama memperhatikan.
  • GANGGUAN MOTORIK DAN KOORDINASI : Pada POLA PERKEMBANGAN NORMAL adalah BOLAK-BALIK, DUDUK, MERANGKAK, BERDIRI DAN BERJALAN  sesuai usia. Pada gangguan keterlambatan motorik biasanya baru bisa bolak balik pada usia lebih 5 bulan, usia 6 – 8 bulan tidak duduk dan merangkak, setelah usia 8 bulan langsung berdiri dan berjala
BACA  YOUTUBE DR WIDODO Judarwanto: Batuk Lama : Infeksi Berulang, Alergi atau TB Paru ?

Berbagai tanda dan gejala tersebut seringkali timbul dan berkurangnya secara bersamaan. Gangguan tersebut dapat meningkat atau lebih terganggua karena2 hal utama

  • Bila berbagai gangguan tersebut ringan biasanya penyebabnya karena reaksi akibat makanan bisa karena susu formula yang dikonsumsi atau makanan ibu yang dapat melalui ASI yang ikut terkonsumsi bayi.
  • Bila berbagai gangguan tersebut tidak ringan biasanya penyebabnya karena bayi mengalami infeksi virus ringan  atau flu. Gangguan flu atau infeksi saluran napas pada bayi sangat ringan kadang hanya berupa bersin lebih sering, batuk hanya sekali-sekali, napas bunyi grok-grok semakin keras terdengar. Bayi biasanya teraba kepala atau badannya agak sedikit hangat tetapi bila diukur dengen termometer suhunya normal. Bila ini terjadi biasanya terdapat orang dekat bayi yang mengalami sakit flu ringan. Bisa saja kakak, ayah, ibu, nenek atau pengasuh yang sering menggendong. Flu atau infeksi virus ringan pada orang dewasa kadang hanya berupa badan ngilu, pegal atau sering dikira kecapekan. Biasanya kadang disertai nyeri tenmggorokan, sakit kepala dan hanya berlangsung 1-2 hari saja, atau sering diangga flu tidak jadi.

Penanganan

  • Pijat halus atau menggosok punggung atau tepuk punggung bayi Anda dengan lembut saat ia mengalami cegukan. Jangan menampar atau memukul area ini dengan kasar atau terlalu kuat. Menggosok punggung dan menggoyangkan bayi ke depan dan ke belakang dapat membantu mereka untuk rileks. Ini dapat menghentikan kejang yang menyebabkan cegukan.
  • Sendawa bayi Anda.
  • Beri  dot/empeng atau pacifier. Cegukan bayi tidak selalu dimulai dari menyusui. Ketika bayi Anda mulai cegukan sendiri, coba biarkan dia menghisap empeng, karena ini akan membantu mengendurkan diafragma dan dapat membantu menghentikan serangan cegukan.
  • Biarkan cegukan berjalan dengan sendirinya.
  • Beri makan air keluhan bayi Anda.
  • Istirahat dan sendawa Beristirahat sejenak dari menyusui untuk bersendawa dapat membantu menghilangkan cegukan, karena bersendawa dapat menghilangkan gas berlebih yang dapat menyebabkan cegukan. Bersendawa juga akan membantu karena menempatkan bayi Anda pada posisi tegak.
  • American Academy of Pediatrics menyarankan agar bayi Anda yang diberi susu botol bersendawa setiap 2 sampai 3 ons. Jika bayi Anda disusui, Anda harus membuatnya bersendawa setelah dia berganti payudara.
  • Ada beberapa cara untuk menghentikan atau mencegah cegukan pada bayi baru lahir.
  • Beristirahat dari memberi makan hingga bersendawa dan menggunakan empeng dapat membantu, misalnya. Penting untuk diingat bahwa kebanyakan bayi mengalami cegukan di tahun pertama, dan biasanya hal ini tidak perlu dikhawatirkan.
  • Biarkan mereka berhenti sendiri Lebih sering daripada tidak, cegukan bayi Anda akan berhenti sendiri. Jika mereka tidak mengganggu bayi Anda, maka Anda bisa membiarkannya lari.
  • Jika Anda tidak ikut campur dan cegukan bayi Anda tidak berhenti dengan sendirinya, beri tahu dokter mereka. Meskipun jarang, cegukan mungkin menjadi tanda masalah medis yang lebih serius.
  • Terapi herbal untuk bayi di atas usia 6 bulan.
    • Jika bayi Anda merasa tidak nyaman karena cegukannya, maka Anda mungkin ingin mencoba memberi mereka air minum. Gripe water adalah kombinasi herbal dan air yang diyakini oleh beberapa orang dapat membantu mengatasi kolik dan ketidaknyamanan usus lainnya.
    • Jenis tumbuhan dapat bervariasi dan mungkin termasuk jahe, adas, kamomil, dan kayu manis. Meskipun air gripe belum terbukti membantu mengatasi cegukan pada bayi, ini adalah produk yang cukup berisiko rendah.
    • Sebelum Anda memberi bayi Anda sesuatu yang baru, selalu disarankan agar Anda mendiskusikannya dengan dokter bayi Anda.

Pencegahan

  • Bila gangguan cegukan berlangsung lebih dari 2 minggu menetap dan disertai tanda dan gejala hipersensitifitas saluran cerna lainnya, hipersensitifitas kulit dan hipersebsitifitas saluran napas, maka alergi makanan bisa dicurigai sebagai penyebab gangguan tersebut.
  • Ada beberapa cara untuk membantu mencegah episode cegukan. Namun, sulit untuk mencegah bayi Anda cegukan sepenuhnya karena penyebabnya tidak selalu jelas.
  • Pastikan bayi Anda tenang saat Anda menyusuinya. Ini berarti tidak menunggu sampai bayi Anda sangat lapar sehingga mereka kesal dan menangis sebelum menyusui dimulai.
  • Setelah menyusui, hindari aktivitas berat dengan bayi Anda, seperti melompat-lompat atau bermain dengan energi tinggi.
  • Jaga bayi Anda dalam posisi tegak selama 20 hingga 30 menit setelah makan.
  • Cegukan dianggap normal untuk bayi yang berusia kurang dari 12 bulan. Mereka juga bisa terjadi saat bayi masih dalam kandungan.
  • Namun, jika bayi Anda sering cegukan, terutama jika ia juga kesal atau gelisah saat cegukan, ada baiknya untuk berkonsultasi dengan dokter bayi Anda. Ini bisa menjadi pertanda masalah medis lainnya.
  • Juga, bicarakan dengan dokter jika cegukan bayi Anda mengganggu tidurnya atau jika cegukan terus terjadi setelah ulang tahun pertama anak Anda.
  • Penting untuk diperhatikan bahwa dokter menyarankan agar Anda menghindari banyak pengobatan stereotip untuk cegukan saat bayi Anda mendapatkannya. Misalnya, jangan mengejutkan bayi Anda atau menarik lidahnya. Metode ini biasanya tidak berhasil untuk bayi, dan mungkin lebih berbahaya daripada baik.
BACA  CD14 Dalam ASI dan Manifestasi Atopik Pada Bayi

Jangan dilakukan Untuk Tangani Cegukan

  • membuat bayi atau anak melompat
  • menarik lidah bayi
  • membuat bayi meminum air sambil terbalik
  • Adalah ide yang buruk untuk mencoba bebagai hal it, dan banyak pengobatan rumah lainnya, pada bayi. Pengobatan yang seharusnya dapat membuat bayi stres dan bahkan mungkin berbahaya. Mereka tidak mungkin menghentikan cegukan.

 

Referensi

  • Alexander N. Levy,a Soroya M. Rahaman,b Peter A. Bonis,a Golrokh Javid,a and John Leunge. Hiccups as a Presenting Symptom of Eosinophilic Esophagitis. Case Rep Gastroenterol. 2012 May-Aug; 6(2): 340–343.
  • M J Fisher 1, R K Mittal. Hiccups and gastroesophageal reflux: cause and effect? Case Reports Dig Dis Sci. 1989 Aug;34(8):1277-80.
  • J B Marshall 1, R J Landreneau, K L Beyer. Hiccups: esophageal manometric features and relationship to gastroesophageal reflux. Case Reports Am J Gastroenterol. 1990 Sep;85(9):1172-5.
  • G Zaninotto 1, M Costantini, E Ancona. Hiccups and related esophageal motor disorders. Case Reports Hepatogastroenterology. 1991 Oct;38(5):435-7.
  • S S Shay, R L Myers, L F Johnson. Hiccups associated with reflux esophagitis. Case Reports Gastroenterology. 1984 Jul;87(1):204-7.
  • M J Fisher 1, R K Mittal. Hiccups and gastroesophageal reflux: cause and effect? Case Reports Dig Dis Sci. 1989 Aug;34(8):1277-80. doi: 10.1007/BF01537278.
  • Hideaki Morita 1, Ichiro Nomura, Akio Matsuda, Hirohisa Saito, Kenji Matsumoto. Gastrointestinal food allergy in infants. Allergol Int. 2013 Sep;62(3):297-307. doi: 10.2332/allergolint.13-RA-0542.
  • Rosan Meyer Adriana Chebar Lozinsky David M. Fleischer Mario C. Vieira George Du Toit Yvan Vandenplas Christophe Dupont Rebecca Knibb Piınar Uysal Ozlem Cavkaytar. Diagnosis and management of Non‐IgE gastrointestinal allergies in breastfed infants—An EAACI Position Paper European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI), First published: 14 June 2019 https://doi.org/10.1111/all.13947

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)