Penanganan Terkini Sepsis Neonatorum

Spread the love

 

Penanganan Terkini Sepsis Neonatal

Sepsis neonatal merupakan sindrom klinis penyakit sistemik akibat infeksi yang terjadi dalam satu bulan pertama kehidupan. Bakteri, virus, jamur dan protozoa dapat menyebabkan sepsis pada neonatus. Insidensnya berkisar 1 – 8 di antara 1000 kelahiran. hidup dan meningkat menjadi 13-27 per 1000 kelahiran hidup pada bayi dengan berat

Sepsis neonatal dapat dikategorikan sebagai onset dini (hari kehidupan 0-3) atau onset lambat (hari kehidupan 4 atau lebih baru). Dari bayi baru lahir dengan sepsis onset dini, 85% hadir dalam 24 jam (usia median onset 6 jam), 5% hadir pada 24-48 jam, dan persentase yang lebih kecil hadir dalam 48-72 jam. Onset paling cepat terjadi pada neonatus prematur.

Sepsis onset dini dikaitkan dengan akuisisi mikroorganisme dari ibu. Infeksi dapat terjadi melalui hematogen, penyebaran transplasenta dari ibu yang terinfeksi atau, lebih umum, melalui infeksi menaik dari serviks. Organisme yang menjajah saluran genitourinari ibu (GU) dapat diperoleh oleh neonatus saat melewati kanal kelahiran yang dijajah pada saat persalinan. Mikroorganisme yang paling sering dikaitkan dengan infeksi awal-awal meliputi:

  • Streptococcus Grup B (GBS)
  • Escherichia coli
  • Staphylococcus Coagulase-negatif
  • Haemophilus influenzae
  • Listeria monocytogenes

Sepsis onset lambat terjadi pada usia 4-90 hari dan didapat dari lingkungan. Organisme yang terlibat dalam sepsis onset lambat meliputi:

  • Staphylococcus Coagulase-negatif
  • Staphylococcus aureus
  • E coli
  • Klebsiella
  • Pseudomonas
  • Enterobacter
  • Candida
  • GBS
  • Serratia
  • Acinetobacter
  • Anaerob

Tren sepsis onset lambat menunjukkan peningkatan sepsis streptokokus koagulase-negatif, dengan sebagian besar isolat menunjukkan kerentanan terhadap sefalosporin generasi pertama. Kulit, saluran pernapasan, konjungtiva, saluran pencernaan, dan umbilikus bayi dapat dijajah melalui kontak dengan lingkungan atau pengasuh.

Pneumonia lebih sering terjadi pada sepsis onset dini, sedangkan meningitis dan bakteremia lebih sering terjadi pada sepsis onset lambat. Sepsis onset dini adalah 10 hingga 20 kali lebih mungkin terjadi pada bayi prematur, berat lahir sangat rendah.  Bayi prematur seringkali memiliki gejala yang tidak spesifik dan halus; Oleh karena itu diperlukan kewaspadaan yang cukup pada pasien ini sehingga sepsis dapat diidentifikasi dan diobati secara tepat waktu.

Tren epidemiologi sepsis onset dini menunjukkan penurunan insiden penyakit GBS setelah adopsi yang luas dari skrining prenatal dan protokol perawatan.

Dalam sebuah studi yang melibatkan 4696 wanita, kultur prenatal menunjukkan tingkat kolonisasi GBS 24,5%, dengan tingkat kultur positif 18,8% pada saat persalinan.  Sebanyak 10% wanita prenatal-negative culture ditemukan memiliki budaya positif pada saat persalinan. Dalam penelitian ini, profilaksis antibiotik intrapartum terjadi tepat pada 93,3% kasus, dengan 0,36 dari 1.000 bayi mengembangkan penyakit GBS onset dini.

BACA  Penyebab dan Penanganan Gangguan Tidur Pada Bayi,

Sepsis dibedakan menjadi : berkembang menjadi syok septik
* dengan mortalitas tinggi
* dengan meningitis
* dengan monitor invasif dan berbagai teknik yang digunakan di ruang rawat intensif.

Diagnosis
– Riwayat ibu mengalami infeksi intrauterin, demam dengan kecurigaan infeksi berat atau ketuban pecah dini
– Riwayat persalinan tindakan, penolong persalinan, lingkungan persalinan yang kurang higienis
– Riwayat lahir asfiksia berat, bayi kurang bulan, berat lahir rendah
– Riwayat air ketuban keruh, purulen atau bercampur mekonium
– Riwayat bayi malas minum, penyakitnya cepat memberat
– Riwayat keadaan bayi lunglai, mengantuk aktivitas berkurang atau iritabel/rewel, muntah, perut kembung, tidak sadar, kejang

Pemeriksaan fisis

Keadaan Umum

  • Suhu tubuh tidak normal (lebih sering hipotermia)
  • Letargi atau lunglai, mengantuk atau aktivitas berkurang
  • Malas minum setelah sebelumnya minum dengan baik
  • Iritabel atau rewel
  • Kondisi memburuk secara cepat dan dramatis

Gastrointestinal

  • Muntah, diare, perut kembung, hepatomegali
  • Tanda mulai muncul sesudah hari keempat

Kulit

  • Perfusi kulit kurang, sianosis, petekie, ruam, sklerema, ikterik.

Kardiopulmonal

  • Takipnu, distres respirasi (napas cuping hidung, merintih, retraksi) takikardi, hipotensi.

Neurologis

  • Iritabilitas, penurunan kesadaran, kejang, ubun-ubun membonjol, kaku kuduk sesuai dengan meningitis.

Pemeriksaan penunjang

  • Pemeriksaan jumlah lekosit dan hitung jenis secara serial untuk menilai perubahan akibat infeksi, adanya lekositosis atau lekopeni, neutropeni, peningkatan rasio netrofil imatur/total (I/T) lebih dari 0,2.
  • Peningkatan protein fase akut (C-reactive protein), peningkatan lgM.
  • Ditemukan kuman pada pemeriksaan kultur dan pengecatan Gram pada sampel darah, urin dan cairan serebrospinal serta dilakukan uji kepekaan kuman.
  • Analisis gas darah: hipoksia, asidosis metabolik, asidosis laktat.
  • Pada pemeriksaan cairan serebrospinal ditemukan peningkatan jumlah leukosit terutama PMN, jumlah leukosit >20/mL (umur kurang dari 7 hari) atau >10/mL (umur
    lebih 7 hari), peningkatan kadar protein, penurunan kadar glukosa serta ditemukan kuman pada pengecatan Gram. Gambaran ini sesuai dengan meningitis yang sering terjadi pada sepsis awitan lambat.
  • Gangguan metabolik hipoglikemi atau hiperglikemi, asidosis metabolik.
  • Peningkatan kadar bilirubin.

Radiologis

Foto toraks dilakukan jika ada gejala distres pernapasan. Pada foto toraks dapat ditemukan :

  • Pneumonia kongenital berupa konsolidasi bilateral atau efusi pleura.
  • Pneumonia karena infeksi intrapartum, berupa infiltrasi dan destruksi jaringan bronkopulmoner, atelektasis segmental atau lobaris, gambaran retikulogranular difus (seperti penyakit membran hialin) dan efusi pleura.
  • Pada pneumonia karena infeksi pascanatal, gambarannya sesuai dengan pola kuman setempat.

Jika ditemukan gejala neurologis, dapat dilakukan CT scan kepala, dapat ditemukan obstruksi aliran cairan serebrospinal, infark atau abses. Pada ultrasonografi dapat ditemukan ventrikulitis.
Pemeriksaan lain sesuai penyakit yang menyertai.

BACA  Penilaian, Interpretasi dan Nilai Prediksi Skor Apgar  Bayi Baru Lahir

Penanganan

Dugaan sepsis

  • Pada dugaan sepsis pengobatan ditujukan pada temuan khusus (misalnya kejang) serta dilakukan pemantauan.

Kecurigaan besar sepsis

  • Antibiotik. Antibiotik awal diberikan ampisilin dan gentamisin. Bila organisme tidak dapat ditemukan dan bayi tetap menunjukkan tanda infeksi sesudah 48 jam, ganti ampisilin dan beri sefotaksim, sedangkan gentamisin tetap dilanjutkan.

Pada sepsis nosokomial, pemberian antibiotik disesuaikan dengan pola kuman setempat. Jika disertai dengan meningitis, terapi antibiotik diberikan dengan dosis meningitis selama 14 hari untuk kuman Gram positif dan 21 hari untuk kuman Gram negatif. Lanjutan terapi dilakukan berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas, gejala klinis, dan pemeriksaan laboratorium serial (misalnya CRP).

Respirasi

  • Menjaga patensi jalan napas dan pemberian oksigen untuk mencegah hipoksia. Pada kasus tertentu mungkin dibutuhkan ventilator mekanik.

Kardiovaskular

  • Pasang jalur IV dan beri cairan dengan dosis rumatan serta lakukan pemantauan tekanan darah (bila tersedia fasilitas) dan perfusi jaringan untuk medeteksi dini adanya syok. Pada gangguan perfusi dapat diberikan volume ekspander (NaCl fisiologis, darah atau albumin, tergantukebutuhan) sebanyak 10 ml/kgBB dalam waktu setengah jam, dapat diulang 1-2 kali. Jangan lupa untuk melakukan monitor keseimbangan cairan. Pada beberapa keadaan mungkin diperlukan obat-obat inotropik seperti dopamin atau dobutamin.

Hematologi
Transfusi komponen jika diperlukan, atasi kelainan yang mendasari.

  • Tunjangan nutrisi adekuat
  • Manajemen khusus
  • Pengobatan terhadap tanda khusus lain atau penyakit penyerta serta komplikasi yang terjadi (misal: kejang, gangguan metabolik, hematologi, respirasi, gastrointestinal, kardiorespirasi, hiperbilirubin).
  • Pada kasus tertentu dibutuhkan imunoterapi dengan pemberian imunoglobulin, antibodi monoklonal atau transfusi tukar (bila fasilitas memungkinkan).
  • Transfusi tukar diberikan jika tidak terdapat perbaikan klinis dan laboratorium setelah pemberian antibiotik adekuat.

Bedah

  • Pada kasus tertentu, seperti hidrosefalus dengan akumulasi progesif dan enterokolitis nekrotikan, diperlukan tindakan bedah.

Lain-lain 

  • Rujukan subspesialis, rujukan spesialisasi lainnya, dll). Pengelolaan bersama dengan sub bagian Neurologi anak, Pediatri Sosial, bagian Mata, Bedah Syaraf dan Rehabilitasi anak.

Tumbuh Kembang 

  • Komplikasi yang sering terjadi pada penderita dengan sepsis, terutama jika disertai dengan meningitis, adalah gangguan tumbuh kembang berupa gejala sisa neurologis seperti retardasi mental, gangguan penglihatan, kesukaran belajar dan kelainan tingkah. laku.

Langkah Preventif

  • Mencegah dan mengobati ibu demam dengan kecurigaan infeksi berat atau infeksi
    intrauterin.
  • Mencegah dan pengobatan ibu dengan ketuban pecah dini.
  • Perawatan antenatal yang baik.
  • Mencegah aborsi yang berulang, cacat bawaan.
  • Mencegah persalinan prematur.
  • Melakukan pertolongan persalinan yang bersih dan aman.
  • Melakukan resusitas dengan benar.
  • Melakukan tindakan pencegahan infeksi : CUCI TANGAN!!
  • Melakukan identifikasi awal terhadap faktor resiko sepsis pengelolaan yang efektif.
BACA  Buang Angin (Kentut) Berlebihan pada bayi dan Hipersensitifitas Saluran Cerna

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *