KLINIK DR WIDODO JUDARWANTO pediatrician

Teori Herd Immunity Dalam Membasmi Wabah Covid19

Teori Herd Immunity Dalam Membasmi Wabah Covid19

dr Widodo Judarwanto, pediatrician

Secara umum terdapat tiga cara untuk menghentikan penyakit Covid-19 untuk selamanya. Salah satunya melibatkan pembatasan luar biasa pada pergerakan dan kontak atau kerumunan yang padat, serta pemeriksaan laboratorium agresif, untuk menghentikan penularan dengan cepat. Bila dicermati hal tersebut tidak mungkin saat ini karena virusnya ada di lebih dari 177  negara. Hal lain saat ini mungkin hingga 1 atau 2 tahun lagi vaksin yang bisa melindungi semua orang. Pendapat ektrim lainnya terdapat cara yang berpotensi efektif tetapi mungkin agak menakutkan untuk dipertimbangkan. Cra ektrim itu adalah membiarkan penyakit menyebar di masyarakat. Setelahnya, masyarakat diyakini bakal memiliki kekebalan baru terhadap penyakit menular tersebut. Secara alamiah tanpa bisa dihindari nantinya 60-70% masyarakat akan terinfeksi wabah virus Covid19 dengan berbagai manifestasi klinis mulai tanpa gejala, ringan dan berat. Tetapi setelah dalam tahap tersebut maka secara alamiah manusia kebal terhadap virus tersebut. Pakar epidemiologi memprediksi suatu saat dalam beberapa tahun setelah populasi kebal maka vaksin tadi  mungkin tidak akan bermanfaat lagi.  Metode ektrim ini disebut Herd immunity yang diyakini para ahli dapat menghambat penyebaran virus ke seluruh populasi. Teori inilah yang telah mulai dipertimbangkan oleh pemerintahan Inggris untuk menangani wabah yang sudah sangat meluas di Eropa.

Jika virus terus menyebar, pada akhirnya begitu banyak orang yang telah terinfeksi dan (jika mereka bertahan hidup) menjadi kebal sehingga wabah akan hilang dengan sendirinya karena kuman menemukan semakin sulit untuk menemukan inang yang rentan. Fenomena ini dikenal sebagai kekebalan kawanan.

wp-1583893154504.jpg

Kekebalan Populasi

Imunitas Populasi adalah suatu bentuk perlindungan yang tidak langsung daripada penyakit berjangkit yang berlaku apabila peratusan penduduk yang besar telah menjadi imun atau kebal terhadap sesuatu jangkitan, sehingga memberikan perlindungan secara tidak langsung kepada individu yang tidak imun. Dalam populasi di mana sebilangan besar individu adalah imun, rantaian jangkitan mungkin terganggu, yang menghentikan atau melambatkan penyebaran penyakit. Semakin besar nisbah individu dalam komuniti yang imun, lebih kecil kebarangkalian bahawa mereka yang tidak imun akan bertembung dengan individu yang boleh menjangkit.

Imunitas individu dapat diperoleh melalui pemulihan daripada sesuatu jangkitan sejak dinii atau melalui cara buatan seperti vaksinasi. Sesetengah individu tidak bisa menjadi imun karena pengobatan dalam polulasi. Apabila ambang tertentu telah dicapai, imunitas populasi secara berangsur angsur menghilangkan penyakit dari populasi itu. Penghapusan ini, jika dicapai di seluruh dunia, boleh menyebabkan pengurangan secara kekal dalam bilangan jangkitan lalu menjadi sifar, yang dipanggil pembasmian. Kaedah  ilmiah ini digunakan untuk pembasmian cacar pada tahun 1977 dan bagi pembasmian penyakit lain. KImunitas populasi tidak berlaku untuk semua penyakit, hanya penyakit yang menular, ditularkan dari satu individu ke yang lain. Tetanus, misalnya, menular tetapi tidak mewabah maka imunitas populasi tidak berlaku.

Istilah Imunitas Populasi pertama kali digunakan pada tahun 1923. Fenomena ini terjadi  pada tahun 1930-an setelah diperhatikan sejumlah besar kanak-kanak menjadi kebal terhadap campak, angka kejadian kasus baru wabah campak telah menurun, termasuk di kalangan anak anak yang terinfeksi. Vaksinasi besar-besaran untuk mendorong keimunan kelompok telah menjadi biasa dan terbukti berhasil dalam mencegah penyebaran penyakit ini menyebar. Penolakan terhadap vaksinasi telah menimbulkan munculnya imunitas kelompok, yang membiarkan penyakit yang dapat dicegah secara terus menerus kembali menjangkiti pada masyarakat yang mempunyai kadar vaksin yang tidak mencukupi.

wp-1584654231029.jpg

Keterangan: Kotak teratas menunjukkan wabah dalam populasi di mana beberapa orang dijangkiti (ditunjukkan dalam warna merah) dan selebihnya sehat  (ditunjukkan dalam warna biru); penyakit ini merebak dengan bebas melalui penduduk. Kotak tengah menunjukkan populasi di mana sebagian kecil telah diimunisasi (ditunjukkan dalam kuning); Mereka yang tidak diimunisasi menjadi dijangkiti manakala mereka yang tidak diimunisasi. Dalam kotak bawah, sebahagian besar penduduk telah diimunisasi; ini mencegah penyakit menyebar dengan jelas, termasuk kepada orang yang sehat. Dalam contoh pertama, kebanyakan orang yang tidak diimunisasi menjadi terinfeksi, sedangkan dalam contoh di bawah hanya satu perempat daripada orang ang sehat dijangkiti.

Istilah kekebalan populasi pertama kali digunakan pada tahun 1923 untuk merujuk pada kekebalan seluruh populasi, mengacu pada penelitian yang meneliti kematian penyakit pada populasi tikus dengan berbagai tingkat kekebalan.  Kekebalan kawanan pertama kali diakui sebagai fenomena yang terjadi secara alami pada 1930-an ketika AW Hedrich menerbitkan penelitian tentang epidemiologi campak di Baltimore dan memperhatikan bahwa setelah banyak anak menjadi kebal terhadap campak, jumlah infeksi baru menurun sementara, termasuk di antara anak-anak yang rentan.  Terlepas dari pengetahuan ini, upaya untuk mengendalikan dan menghilangkan campak tidak berhasil sampai vaksinasi massal menggunakan vaksin campak dimulai pada 1960-an. Vaksinasi massal, diskusi tentang pemberantasan penyakit, dan analisis biaya-manfaat dari vaksinasi selanjutnya mendorong penggunaan yang lebih luas dari istilah kekebalan kawanan.  Pada tahun 1970-an, teorema yang digunakan untuk menghitung ambang imunitas kawanan penyakit dikembangkan.  Selama kampanye pemberantasan cacar pada 1960-an dan 1970-an, praktik vaksinasi cincin, di mana kekebalan kawanan merupakan bagian integral, dimulai sebagai cara untuk mengimunisasi setiap orang dalam “cincin” di sekitar individu yang terinfeksi untuk mencegah penyebaran wabah.

Sejak adopsi vaksinasi massal, kompleksitas dan tantangan terhadap kekebalan kawanan telah muncul. Model penyebaran penyakit menular awalnya membuat sejumlah asumsi, yaitu bahwa seluruh populasi rentan dan tercampur dengan baik, yang tidak ada dalam kenyataan, sehingga persamaan yang lebih tepat telah dikembangkan. Dalam beberapa dekade terakhir, telah diakui bahwa galur dominan mikroorganisme dalam sirkulasi dapat berubah karena kekebalan kawanan, baik karena imunitas kawanan yang bertindak sebagai tekanan evolusi atau karena imunitas kawanan terhadap satu galur memungkinkan galur lain yang sudah ada menyebar. [Kontroversi vaksin yang sedang muncul atau yang sedang berlangsung dan berbagai alasan untuk menentang vaksinasi telah mengurangi atau menghilangkan kekebalan kawanan di komunitas tertentu, memungkinkan penyakit yang dapat dicegah bertahan atau kembali ke komunitas ini

Mekanisme

R dan HITs penyakit terkenal yang mewabah
Penyakit Penularan R HIT
Campak airborne atau udara 12-18 92-95%
Pertussis droplet infection cairan ludah 12-17 92-94%
Dipteria Air liur 6-7 83-86%
Rubella airborne atau udara
Cacar 5-7 80-86%
Polio tinja oral
Mumps droplet infection cairan ludah 4-7 75-86%
SARS 2-5 50-80%
Ebola
(Wabak virus Ebola di Afrika Barat)
Cairan badan 1.5-2.5 33-60%
Influenza(pandemik influenza) airborne atau udara 1.5-1.8 33-44%
BACA  Rekomendasi CDC Bagi Masyarakat dan Tenaga Kesehatan Menghadapi Wabah Covid19

Individu yang kebal terhadap penyakit bertindak sebagai penghalang dalam penyebaran penyakit, melambatkan atau mencegah penyebaran penyakit kepada orang lain.[18] Keimunan individu boleh diperoleh melalui jangkitan semula jadi atau melalui cara buatan, seperti pemvaksinan. Apabila kadar kritikal penduduk menjadi imun, yang dipanggil ambang keimunan kelompok (HIT) atau tahap keimunan kelompok (HIL), penyakit itu mungkin tidak lagi berterusan dalam populasi, lalu berhenti menjadi endemik.[19][20] Ambang ini boleh dikira dengan mengambil R, nombor pembiakan asas, atau bilangan purata jangkitan baru yang disebabkan oleh setiap kes dalam populasi yang mudah terdedah yang homogen, atau bercampur, bermakna setiap individu boleh bersentuhan dengan setiap individu yang mudah terdedah yang lain dalam sesuatu populasi,[21][20][22] dan mengalikannya dengan S, perkadaran penduduk yang terdedah kepada jangkitan:

  R 0 ⋅ S = 1. {\displaystyle \ R_{0}\cdot S=1.}

S boleh ditulis semula sebagai (1 – p) kerana p adalah perkadaran populasi yang kebal dan p + S sama dengan satu. Kemudian, persamaan boleh disusun semula untuk meletakkan p dengan sendirinya seperti berikut:

  R 0 ⋅ ( 1 − p ) = 1 , {\displaystyle \ R_{0}\cdot (1-p)=1,} 1 − p = 1 R 0 , {\displaystyle 1-p={\frac {1}{R_{0}}},} p c = 1 − 1 R 0 . {\displaystyle p_{c}=1-{\frac {1}{R_{0}}}.}

Dengan p yang berada dengan sendirinya di sebelah kiri persamaan, bisa ditulis sebagai pc untuk mewakili kadar kritikal penduduk yang diperlukan untuk menjadi kebal untuk menghentikan penularan penyakit, atau ambang keimunan kelompok.Fungsi R sebagai ukuran penularan, nilai R yang rendah dikaitkan dengan HIT yang lebih rendah, sedangkan R yang lebih tinggi menghasilkan HIT yang lebih tinggi. Sebagai contoh, HIT untuk penyakit dengan R 2 secara teorinya hanya 50%, sedangkan penyakit dengan R 10, HITnya adalah 90%. Prediksi ini mengandaikan bahwa keseluruhan populasi adalah mudah terinfeksi, bermakna tidak ada individu yang kebal terhadap penyakit ini. Terdapat kadar populasi yang kebal kepada penyakit tertentu pada satu-satu masa. Untuk menilai perkiraan ini, jumlah reproduktif yang berkesan Re, juga ditulis sebagai Rt, atau bilangan purata jangkitan yang disebabkan pada masa t, boleh didapati dengan mendarabkan R dengan pecahan penduduk yang masih terdedah. Apabila Re dikurangkan dan bertahan di bawah 1, jumlah penderita  di dalam populasi secara beransur-ansur berkurang sehingga penyakit itu dihapuskan. Jika populasi yang kebal kepada sesuatu penyakit melebihi HIT penyakit itu, jumlah penderita akan berkurang pada kadar yang lebih cepat, bahkan kemungkinan wabah menjadi berkurang, dan wabah yang terjadi akan  lebih kecil dibandingkan seharusnya. Saat  Re meningkat melebihi 1, maka penyakit itu tidak berada dalam keadaan yang stabil dapat secara aktif tersebar melalui populasi dan menjangkiti bilangan orang yang lebih besar daripada biasa

Dampak

  • Proteksi Tanpa Imunitas Beberapa individu tidak dapat mengembangkan kekebalan setelah vaksinasi atau karena alasan medis tidak dapat divaksinasi. Bayi yang baru lahir terlalu muda untuk menerima banyak vaksin, baik untuk alasan keamanan atau karena kekebalan pasif membuat vaksin tidak efektif.  Orang yang imunodefisiensi karena HIV / AIDS, limfoma, leukemia, kanker sumsum tulang, limpa yang terganggu, kemoterapi, atau radioterapi mungkin telah kehilangan kekebalan yang sebelumnya mereka miliki dan vaksin mungkin tidak ada gunanya bagi mereka karena kekurangan kekebalan mereka. Vaksin biasanya tidak sempurna karena sistem kekebalan tubuh beberapa orang mungkin tidak menghasilkan respons imun yang memadai terhadap vaksin untuk memberikan kekebalan jangka panjang, sehingga sebagian dari mereka yang divaksinasi mungkin kekurangan kekebalan.  Terakhir, kontraindikasi vaksin dapat mencegah individu tertentu menjadi kebal. Selain tidak kebal, individu dalam salah satu kelompok ini mungkin berisiko lebih besar terkena komplikasi dari infeksi karena status medis mereka, tetapi mereka mungkin masih dilindungi jika persentase populasi yang cukup besar kebal
  • Tingkat kekebalan yang tinggi dalam satu kelompok umur dapat menciptakan kekebalan kelompok untuk kelompok umur lainnya. Orang dewasa yang divaksinasi terhadap pertusis mengurangi kejadian pertusis pada bayi yang terlalu muda untuk divaksinasi, yang berada pada risiko terbesar komplikasi dari penyakit ini. Hal ini sangat penting bagi anggota keluarga dekat, yang bertanggung jawab atas sebagian besar penularan kepada bayi muda. Dengan cara yang sama, anak-anak yang menerima vaksin melawan pneumococcus mengurangi kejadian penyakit pneumokokus di antara saudara kandung yang lebih muda dan tidak divaksinasi. Anak-anak yang divaksinasi terhadap pneumokokus dan rotavirus telah memiliki efek mengurangi rawat inap yang disebabkan oleh pneumokokus dan rotavirus untuk anak-anak yang lebih besar dan orang dewasa, yang biasanya tidak menerima vaksin ini. Influenza (flu) lebih parah pada orang tua daripada pada kelompok usia yang lebih muda, tetapi vaksin influenza kurang efektif dalam demografi ini karena berkurangnya sistem kekebalan seiring bertambahnya usia. Prioritas anak usia sekolah untuk imunisasi flu musiman, yang lebih efektif daripada vaksinasi lansia, telah terbukti menciptakan tingkat perlindungan tertentu untuk lansia
  • Tekanan evolusi Kekebalan kounitas sendiri bertindak sebagai tekanan evolusi pada virus-virus tertentu, memengaruhi evolusi virus dengan mendorong produksi strain baru, dalam hal ini disebut sebagai pelarian mutan, yang mampu “melarikan diri” dari kekebalan kawanan dan menyebar dengan lebih mudah. ​​Pada tingkat molekuler, virus melepaskan diri dari kekebalan kawanan melalui penyimpangan antigenik, yaitu ketika mutasi menumpuk di bagian genom virus yang disandikan untuk antigen permukaan virus, biasanya protein dari kapsid virus, menghasilkan perubahan epitop virus. Reassortment dari segmen genom virus yang terpisah, atau pergeseran antigenik, yang lebih umum ketika ada lebih banyak strain dalam sirkulasi, juga dapat menghasilkan serotipe baru. Ketika salah satu dari ini terjadi, sel T memori tidak lagi mengenali virus, sehingga orang tidak kebal terhadap strain sirkulasi dominan. Untuk influenza dan norovirus, epidemi secara sementara menginduksi imunitas kawanan sampai strain dominan baru muncul, menyebabkan gelombang epidemi berturut-turut. Karena evolusi ini menimbulkan tantangan terhadap kekebalan kawanan, antibodi penetralisir luas dan vaksin “universal” yang dapat memberikan perlindungan di luar serotipe spesifik sedang dikembangkan.
  • Penggantian serotipe Penggantian serotipe, atau pergeseran serotipe, dapat terjadi jika prevalensi serotipe spesifik menurun karena tingkat kekebalan yang tinggi, yang memungkinkan serotipe lain untuk menggantinya. Vaksin awal terhadap Streptococcus pneumoniae secara signifikan mengurangi pengangkutan nasofaring serotipe vaksin (VT), termasuk jenis yang resisten antibiotik, hanya untuk sepenuhnya diimbangi dengan peningkatan pengangkutan serotipe non-vaksin (NVTs). Hal ini tidak menghasilkan peningkatan insiden penyakit secara proporsional karena NVT kurang invasif dibandingkan VT. Sejak itu, vaksin pneumokokus yang memberikan perlindungan dari serotipe yang muncul telah diperkenalkan dan telah berhasil melawan kemunculannya. Kemungkinan pergeseran di masa depan tetap ada, sehingga strategi lebih lanjut untuk menangani hal ini termasuk perluasan cakupan VT dan pengembangan vaksin yang menggunakan sel utuh yang terbunuh, yang memiliki lebih banyak antigen permukaan, atau protein yang ada dalam berbagai serotipe.
  • Pemberantasan penyakit .Jika kekebalan populasi telah terbentuk dan dipelihara dalam suatu populasi untuk waktu yang cukup, penyakit ini tidak bisa dihindari dihilangkan — tidak ada lagi transmisi endemik yang terjadi.  Jika eliminasi dicapai di seluruh dunia dan jumlah kasus dikurangi secara permanen menjadi nol, maka suatu penyakit dapat dinyatakan diberantas.  Eradikasi dengan demikian dapat dianggap sebagai efek akhir atau hasil akhir dari inisiatif kesehatan masyarakat untuk mengendalikan penyebaran penyakit menular.  Manfaat pemberantasan termasuk mengakhiri semua morbiditas dan mortalitas yang disebabkan oleh penyakit, penghematan finansial untuk individu, penyedia layanan kesehatan, dan pemerintah, dan memungkinkan sumber daya yang digunakan untuk mengendalikan penyakit untuk digunakan di tempat lain.  Sampai saat ini, dua penyakit telah diberantas dengan menggunakan kekebalan kawanan dan vaksinasi: rinderpest dan cacar.  Upaya pemberantasan yang mengandalkan kekebalan kawanan saat ini sedang berlangsung untuk poliomielitis, meskipun kerusuhan sipil dan ketidakpercayaan terhadap pengobatan modern telah membuat ini sulit. Vaksinasi wajib mungkin bermanfaat bagi upaya pemberantasan jika tidak banyak orang memilih untuk mendapatkan vaksinasi.
  • Free Ridding Penunggang Bebas Kekebalan kawanan rentan terhadap masalah penunggang bebas. Individu yang kekurangan kekebalan, terutama yang memilih untuk tidak divaksinasi, bebas melepaskan kekebalan kawanan yang diciptakan oleh mereka yang kebal.  Karena jumlah penunggang bebas dalam suatu populasi meningkat, wabah penyakit yang dapat dicegah menjadi lebih umum dan lebih parah karena hilangnya kekebalan kawanan. Individu dapat memilih untuk berkendara gratis karena berbagai alasan, termasuk persepsi ketidakefektifan vaksin, percaya bahwa risiko yang terkait dengan vaksin lebih besar daripada risiko yang terkait dengan infeksi, ketidakpercayaan terhadap vaksin atau pejabat kesehatan masyarakat, ikut-ikutan atau berpikiran berkelompok, norma sosial atau tekanan teman sebaya,  dan keyakinan agama.Orang-orang tertentu lebih cenderung memilih untuk tidak menerima vaksin jika tingkat vaksinasi cukup tinggi untuk meyakinkan seseorang bahwa ia mungkin tidak perlu kebal karena sudah ada persentase yang cukup dari orang lain.

BACA  Definisi Alergi, Alergen dan Reaksi Inlamasi Alergi

wp-1583888429885.jpg

wp-1583893569263.jpgTeori Herd Imunitas dan Wabah Covid19

Bila hal itu semua dilakuan maka ada pendapat ahli epidemiologi yang menggungkapkan pendapat ektrim biarkanlah wabah itu berjalan secara alamiah. Hal ekstrim inilah yang juga dianut pemerintah Ingris. Hal ini menjadi petunjuk ketika  beberapa ahli telah merekomendasikan teori untuk meredam wabah virus corona Covid-19 tentang  teori ilmiah herd immunity dengan membiarkan virus corona Covid-19 perlahan menyapu semua orang. Herd immunity merupakan skenario ketika banyak orang kebal terhadap sebuah penyakit, baik melalui vaksinasi ataupun melalui paparan. Metode ini dilakukan dengan membiarkan penyakit menyebar di masyarakat. Setelahnya, masyarakat diyakini bakal memiliki kekebalan baru terhadap penyakit menular tersebut. Metode ini disinyalir dapat menghambat penyebaran virus ke seluruh populasi. Herd immunity bisa secara efektif membasmi virus dalam satu atau dua musim, serta lebih efisien sambil menunggu vaksin corona bisa dikembangkan dan didistribusikan. Para Ahli mengatakan butuh sekitar 60-70 persen dari populasi penduduk yang perlu terinfeksi dalam metode herd immunity ini.

Penyebaran coronavirus yang luas dan tak terbendung adalah persis hasil yang para ahli modelkan dalam skenario terburuk mereka. Mereka mengatakan bahwa mengingat apa yang mereka ketahui tentang virus, virus itu dapat menginfeksi sekitar 60% populasi dunia, bahkan dalam setahun. Angka-angka itu bukan prediksi acak. Mereka diberitahu oleh titik di mana ahli epidemiologi mengatakan kekebalan populasi  akan menyingkirkan secara alamiah wabah covid19 ini.  Fenomena ini bisa dipelajari dari penyebaran wabah virus Zika, penyakit yang ditularkan nyamuk yang menyebabkan kepanikan pada tahun 2015 karena kaitan dengan kelainan kelahiran. Dua tahun kemudian, pada 2017, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Sebuah penelitian di Brazil menemukan dengan memeriksa sampel darah bahwa 63% dari populasi di kota pantai timur laut Salvador telah memiliki paparan Zika; para peneliti berspekulasi bahwa kekebalan imunitas telah menghilangkan  wabah itu.

Pekan lalu gagasan kekebalan populasi atau Her Immunity ini merebak pada berita utama setelah perdana menteri Inggris Boris Johnson mengindikasikan bahwa strategi resmi negara mungkin adalah menggunakan cara yang ektrim ini dengan membiarkan penyakit berjalan dengan sendirinya. Kepala penasihat ilmu pengetahuan untuk pemerintah Inggris, Patrick Vallance, mengatakan negara itu perlu “membangun semacam kekebalan populasi sehingga lebih banyak orang yang kebal terhadap penyakit ini dan kami mengurangi penularannya.” Demikian juga perdana menteri Belanda, Mark Rutte, juga menyiratkan hal yang sama, mengatakan, Kita dapat memperlambat penyebaran virus sementara pada saat yang sama membangun kekebalan kelompok dengan cara yang terkendali.

Tetapi berspekulasi terori tersebut dengan membiarkan kekebalan populasi dengan segera tanpa pertimbangan sangat cermat akan menjadi strategi bencana. Apalagi bila dilakukan negara yang sarana kesehatannya terbatas seperti Indonesia. Karena, akan begitu banyak orang akan menjadi sakit parah dan terjadi peningkatan secara drastis kasus baru Covid19 secara mendadakyang membutuhkan pelayananan kesehatan khususnya rumah sakit atau perawatan ICU akan membuat tenaga kesehatan kewalahan. Inggris minggu ini mengisyaratkan akan melakukan lebih banyak cara untuk menekan virus, termasuk mencegah pertemuan orang banyak. Memperlambatnya berarti sistem kesehatan dapat dihindarkan dan diselamatkan, tetapi pada akhirnya hasilnya bisa sama. Jika pandemi dibiarkan dari waktu ke waktu, masih mungkin membutuhkan kekebalan populasi  untuk menghentikannya.

Tetapi Matt Hancock, Secretary for health and social care atau Sekretaris Inggris untuk perawatan kesehatan dan sosial, buru buru mengklarifikasi setelah kritik terhadap pemerintah Inggris semakin deras : “Kekebalan populasi  bukan tujuan atau kebijakan kami. Itu konsep ilmiah. “

Ketika cukup banyak populasi yang kebal terhadap kuman, penyebarannya berhenti secara alami karena tidak cukup banyak orang yang dapat menularkannya. Dengan demikian, “populasi” itu kebal, meskipun banyak individu di dalamnya masih belum. Meskipun sangat mengerikan untuk merenungkan prospek miliaran yang terinfeksi oleh coronavirus, yang diperkirakan memiliki tingkat kematian per infeksi di sekitar 1%. Hal itu juga tidak pasti, dan tingkat kematian dari kasus yang dilarikan ke rumah sakit lebih tinggi. para peneliti telah melihat bukti untuk munculnya kekebalan kawanan dalam wabah baru-baru ini lainnya.

Herd immunity

Dalam model sederhana wabah, setiap kasus menginfeksi dua lagi, menciptakan peningkatan penyakit secara eksponensial. Namun begitu separuh penduduknya kebal, wabah tidak lagi tumbuh secara bermakna.

BACA  Jaga Imun Sudah, Mengapa Tetap Covid19 Semakin Meluas

Vaksin menciptakan imunitas populasi juga, baik ketika diberikan secara luas atau kadang-kadang ketika diberikan dalam “cincin” di sekitar kasus baru infeksi langka. Begitulah cara penyakit seperti cacar diberantas dan mengapa polio hampir terhapus. Berbagai upaya vaksin sedang dilakukan untuk virus korona ini, tetapi mereka mungkin tidak siap untuk lebih dari satu tahun.

Bahkan kemudian, pembuat vaksin dapat menemukan diri mereka dalam persaingan  yang kalah dengan kekuatan alam untuk  melindungi populasi  pertama. Kisah yang tidak terungakp terjadi pada tahun 2017, ketika pembuat obat Sanofi diam-diam meninggalkan vaksin Zika dalam pengembangan setelah kekurangan dana dan sulit untuk dipasarkan. Coronavirus baru itu, tidak terjadi  ada orang yang kebal terhadapnya. Tetapi beberapa kasus memiliki efek yang sangat parah pada beberapa orang.

Agar kekebalan populasi dapat bertahan, orang harus menjadi resisten setelah terinfeksi. Itu terjadi pada banyak kuman: orang yang terinfeksi dan pulih menjadi kebal terhadap penyakit itu lagi, karena sistem kekebalan mereka diisi dengan antibodi yang mampu mengalahkannya. Sekitar 80.000 orang telah pulih dari coronavirus, dan kemungkinan mereka sekarang resisten, meskipun tingkat kekebalannya masih belum diketahui.

Kapan  mencapai kekebalan?

Dalam kondisi tertentu di mana manusia mencapai kekebalan populasi secara matematis terkait dengan kecenderungan kuman untuk menyebar, dinyatakan sebagai nomor reproduksinya, atau R0. R0 untuk coronavirus adalah antara 2 dan 2,5, para ilmuwan memperkirakan setiap orang yang terinfeksi menularkannya kepada sekitar dua orang lain, tidak ada langkah-langkah untuk mencegah penularan.

Untuk membayangkan bagaimana kekebalan kawanan bekerja, harus melihat kasus-kasus coronavirus yang berlipat ganda dalam populasi yang rentan dengan cara ini: 1, 2, 4, 8, 16, dan seterusnya. Tetapi jika separuh orang kebal, setengah dari infeksi itu tidak akan pernah terjadi, sehingga kecepatan penyebarannya berkurang secara efektif menjadi dua. Kemudian, menurut Science Media Center, wabah muncul bersamaan seperti ini sebagai gantinya: 1, 1, 1, 1 … Wabah tersebut dihilangkan begitu tingkat infeksi kurang dari 1.

Tingkat penyebaran kuman saat ini lebih tinggi dari flu biasa, tetapi serupa dengan influenza baru yang muncul yang kadang-kadang menyapu dunia sebelumnya. Hal itu mirip dengan pandemi flu tahun 1918, dan itu menyiratkan bahwa akhir dari epidemi ini akan membutuhkan hampir 50% dari populasi untuk menjadi kebal, baik dari vaksin, yang tidak berada di alam ini secara langsung, atau dari infeksi alami

Semakin banyak virus menular, semakin banyak orang perlu kebal agar kita dapat mencapai kekebalan kawanan. Campak, salah satu penyakit yang paling mudah menular dengan R0 lebih dari 12, membutuhkan sekitar 90% orang untuk kebal terhadap orang yang tidak terlindungi untuk mendapatkan tumpangan gratis dari kawanan. Itulah sebabnya wabah baru dapat dimulai ketika bahkan sejumlah kecil orang memilih keluar dari vaksin campak.

Demikian pula, jika coronavirus menyebar lebih mudah dari yang diperkirakan para ahli, lebih banyak orang perlu mendapatkannya sebelum kekebalan kawanan tercapai. Untuk R0 dari 3, misalnya, 66% dari populasi harus kebal sebelum efeknya masuk, menurut model paling sederhana. Baik itu 50% atau 60% atau 80%, angka-angka itu menyiratkan miliaran orang terinfeksi dan jutaan orang terbunuh di seluruh dunia, meskipun semakin lambat pandemi ini terungkap, semakin besar peluang perawatan atau vaksin baru untuk membantu.

Referensi :

  • How to Build Behavioral Herd Immunity Against COVID-19.https://www.realclearscience.com/articles/2020/03/03/how_to_build_behavioral_herd_immunity_against_covid-19_111309.html
  • Fine, P.; Eames, K.; Heymann, D. L. (1 April 2011). “Herd immunity”: A rough guide”. Clinical Infectious Diseases. 52 (7): 911–16. doi:10.1093/cid/cir007. PMID 21427399.
  • Gordis, L. (14 November 2013). Epidemiology. Elsevier Health Sciences. halaman 26–27. ISBN 978-1455742516. Dicapai pada 29 March 2015.
  • Merrill, R. M. (2013). Introduction to Epidemiology. Jones & Bartlett Publishers. halaman 68–71. ISBN 978-1449645175. Dicapai pada 29 March 2015.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)

× Konsultasi Kesehatan Whatsapp, Klik Di sini