KLINIK DR WIDODO JUDARWANTO pediatrician

Rapid Test Covid19, Inilah Beda Rapid Test dan PCR

Spread the love

 

Rapid test merupakan salah satu tes untuk mendeteksi secara cepat SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19. Berbeda dengan metode selama ini yang menggunakan real time polymerase chain reaction (RT-PCR) yang mengambil usapan lendir dari hidung atau tenggorokan, rapid test akan dilakukan dengan mengambil sampel darah pasien positif Covid-19.

  • Rapid test atau tes cepat secara massal untuk pemeriksaan imuniglobulin sebagai screening awal. Rapid test ini dilakukan untuk mencegah penyebaran virus corona COVID-19, yang hingga saat ini sudah menginfeksi 309 orang di Indonesia. Rapid Tes Covid19 menggunakan pemeriksaan imunoglobulin sebagai upaya tes screening awal dan bisa dilaksanakan secara massal adalah sebuah keputusan yang baik,
  • Metode pemeriksaan coronavirus ini ada beberapa macam, dilihat dari sensitifitasnya. Untuk virus ini yang paling sensitif adalah pemeriksaan dengan metode molekuler yaitu menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR). Beberapa negara sudah melakukan hal ini dan kita juga akan melaksanakannya. Tujuannya adalah untuk secepatnya bisa mengetahui tentang kasus positif COVID-19 yang berada di masyarakat
Bagaimana Proses Tes Coronavirus COVID-19 Dilakukan?
  • Di beberapa negara yang telah lebih dahulu melakukan tes ini, seperti Amerika Serikat, petugas kesehatan akan menggunakan cotton bud panjang untuk menyeka bagian belakang tenggorokan dan kemudian mengirim sampel itu untuk pengujian.
  • Jika Anda berada di negara yang telah mengembangkan tes antibodi, seperti Cina, Anda mungkin akan diambil darahnya. Apa yang terjadi pada kedua sampel ini sangat berbeda.
  • Hasil swab atau usapan tenggorokan akan digunakan untuk pengujian dengan cara Polymerase Chain Reaction, atau dikenal dengan PCR, sedangkan sampel darah akan digunakan untuk tes antibodi penyakit COVID-19.
  • Kedua tes hanya memakan waktu beberapa jam, artinya hasil bisa keluar dalam satu hari. Saat tes cepat (rapid test) dengan PCR dan antibodi ini dibentuk, hasilnya bisa siap dalam waktu kurang dari satu jam.
  • Tes PCR bekerja dengan mendeteksi bahan genetik spesifik di dalam virus. Tergantung pada jenis PCR yang ada, petugas kesehatan mungkin menyeka bagian belakang tenggorokan; mengambil sampel air liur; mengumpulkan sampel cairan dari saluran pernapasan bawah; atau mengambil sampel tinja, demikian dikutip dari Live Science.

 

Apa itu Rapid Test?

  • Para ilmuwan dari Departemen Ilmu Teknik Universitas Oxford dan Oxford Suzhou Centre for Advanced Research (OSCAR) telah mengembangkan teknologi pengujian cepat (rapid test) untuk virus corona baru SARS-CoV-2 (COVID-19).
  • Tes baru ini jauh lebih cepat dan tidak memerlukan instrumen yang rumit. Tes viral load sebelumnya membutuhkan 1,5 hingga 2 jam untuk memberikan hasil.
  • Tim peneliti telah mengembangkan tes baru, berdasarkan pada teknik yang mampu memberikan hasil hanya dalam setengah jam – tiga kali lebih cepat daripada metode saat ini.
  • Kelebihan tes baru ini terletak pada desain deteksi virus yang secara khusus dapat mengenali fragmen RNA dan RNA SARS-CoV-2 (COVID-19).
  • Tes ini memiliki pemeriksaan bawaan untuk mencegah positif atau negatif palsu dan hasilnya sangat akurat,”
  • Teknologinya sangat sensitif. Ini berarti bahwa pasien pada tahap awal infeksi dapat diidentifikasi lebih cepat, berpotensi membantu mengurangi penyebaran coronavirus SARS-CoV-2 (COVID-19).
  • Teknologi ini hanya membutuhkan blok panas sederhana yang mempertahankan suhu konstan untuk transkripsi balik RNA dan amplifikasi DNA, dan hasilnya dapat dibaca dengan mata telanjang. Ini membuatnya berpotensi berguna di daerah pedesaan atau pusat kesehatan masyarakat.
  • Teknologi ini telah divalidasi dengan sampel klinis nyata di Rumah Sakit Shenzhen Luohou di Cina. Rumah Sakit Luohu Shenzhen telah menerapkan rapid test pada 16 sampel klinik, termasuk 8 positif dan 8 negatif, yang telah dikonfirmasi oleh metode RT-PCR konvensional dan bukti klinis lainnya.
  • Hasil tes menggunakan rapid test semuanya berhasil. “Saya bangga dengan tim kami yang telah mengembangkan teknologi yang bermanfaat dan dapat memberikan kontribusi dalam memerangi CoV-19,
  • Para ilmuwan Oxford sekarang sedang bekerja untuk mengembangkan perangkat terintegrasi sehingga tes dapat digunakan di klinik, bandara, atau bahkan untuk digunakan di rumah. Mereka berencana untuk menjalankan validasi klinis di Inggris dan menjajaki opsi untuk memproduksi alat tes. Proyek ini diprakarsai oleh OSCAR, pusat Universitas Oxford di Taman Industri Suzhou. Eksperimen untuk mengembangkan teknologi dilakukan di Departemen Ilmu Teknik di Universitas Oxford.
BACA  Kaletra Obat Kombinasi HIV Untuk Terapi Virus Corona Covid19

Rapid Test Bisa Kurangi Penyebaran Coronavirus

  • Dr Gaetan Burgio, dari John Curtin School of Medical Research, Universitas Nasional Australia, mengatakan seberapa cepat hasil tes coronavirus keluar, “tergantung pada teknologi (robot), reagen yang tersedia, jumlah teknisi dan protokol untuk melakukan tes. Beberapa dilengkapi lebih baik daripada yang lain, karena itu ada perbedaan dalam pengiriman.”
  • “kecepatan sangat penting” dalam menghadapi pandemi coronavirus. Para pasien, pada prinsipnya, terisolasi untuk menunggu hasil tetapi [pasien] ini mungkin tidak patuh. Memberikan hasil dengan cepat memungkinkan kita untuk dengan cepat mendeteksi positif COVID-19 dan segera menindaklanjuti pasien dalam isolasi atau karantina.”
  • Deteksi cepat mengurangi jumlah pasien yang tidak perlu ditindaklanjuti. Dalam konteks pandemi dengan ribuan pasien untuk dites dalam satu hari, ini [rapid test] sangat penting,” ujarnya, seperti dikutip The Guardian. Rapid test dapat membantu petugas kesehatan di seluruh dunia. Meski begitu, para ahli juga memperingatkan tes ini kemungkinan akan kurang akurat daripada tes PCR berbasis laboratorium karena rapid test mencari antibodi, bukan virus itu sendiri.
  • Jika saat rapid test ditemukan gejala COVID-19, maka tetap harus dilakukan konfirmasi dengan menggunakan PCR. ”Tetap harus dilakukan konfirmasi dengan menggunakan PCR karena ini menjadi penting. PCR memiliki sensitifitas yang jauh lebih tinggi dibanding pemeriksaan rapid,”.

Perbedaan RT-PCR dan rapid test Covid-19

  • Sampel yang digunakan RT-PCT menggunakan sampel usapan lendir dari hidung atau tenggorokan. Lokasi ini dipilih karena menjadi tempat virus bereplikasi. Sementara itu, rapid test menggunakan sampel darah.
  • Cara kerja Virus yang aktif memiliki material genetika yang bisa berupa DNA maupun RNA. Pada virus corona, material genetiknya adalah RNA. Nah, RNA inilah yang diamplifikasi dengan RT-PCR sehingga bisa dideteksi.
    • Rapid test bekerja dengan cara yang berbeda. Virus corona tidak hidup di darah, tetapi seseorang yang terinfeksi akan membentuk antibodi yang disebut immunoglobulin, yang bisa dideteksi di darah. Immunoglobulin inilah yang dideteksi dengan rapid test.
  • Simpelnya, RT-PCR mendeteksi keberadaan virus sedangkan rapid test mendeteksi apakah seseorang pernah terpapar atau tidak. Terkait cara kerja, RT-PCR harus dikerjakan di laboratorium dengan standar biosafety level tertentu. Rapid test lebih praktis karena bisa dilakukan di mana saja
BACA  Manifestasi Klinis Covid 19 Pada Anak

Akurasi

  • Rapid test bisa memberikan hasil ‘false negative’ yakni tampak negatif meski sebenarnya positif. Ini terjadi bila tes dilakukan pada fase yang tidak tepat.
  • Data antibodi tidak selalu bersamaan dengan data PCR. Ketika data PCR menunjukkan virus RNA terdeteksi, kadang-kadang antibodi belum
    terbentuk
  • Hanya masalahnya bahwa yang diperiksa immunoglobulin-nya maka kita butuh reaksi immunoglobulin dari seseorang yang terinfeksi paling tidak seminggu karena kalau belum seminggu terinfeksi atau terinfeksi kurang dari seminggu pembacaan immunoglobulin-nya akan menampilkan gambaran negatif,

  • Bisa saja seseorang terinfeksi Corona, tetapi masih terdeteksi negatif melalui tes cepat (rapid test). Kondisi ini terjadi karena respons dari sistem imun seseorang belum muncul. Hal ini sering terjadi pada infeksi di bawah 7 hari atau 6 hari. Oleh karena itu, ini akan diulang lagi 6 – 7 hari kemudian dengan pemeriksan yang sama. Masyarakat yang dinyatakan negatif tetapi harus melakukan pembatasan aktivitas dengan mengatur jarak sosial dan menghindati kontak interaksi secara berlebihan.

Lama waktu pemeriksaan

  • RT-PCR jelas membutuhkan waktu lebih lama. Belum termasuk waktu pengiriman sampel karena pemeriksaan virus corona sempat dipusatkan hanya di laboratorium Litbangkes (Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) di Jakarta. Rapid test bisa dilakukan kapan saja dan hanya butuh waktu 15-20 menit untuk mendapatkan hasilnya.
  • Untuk skrining di bandara misalnya, rapid diagnostik cukup menjanjikan karena hanya 20 menit.
  • Untuk kebutuhan massive screening dan menemukan lebih banyak kasus, rapid test berbasis antibodi dinilai sebagai pilihan yang tepat.

Biaya

  • Rapid test diklaim lebih ekonomis dibanding RT-PCR. Dalam sebuah wawancara, Kepala Balitbangkes Siswanto, memberikan perkiraan biaya RT-PCR.
  • Per orang rata-rata total unit cost mulai dari ambil spesimen, transport, pemeriksaan PCR sekitar Rp 1,5 juta.
BACA  Sindrom Premenstrual dan Alergi

wp-1583893368370.jpg

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)